Friday, October 12, 2007
Wednesday, October 10, 2007
Libur lebaran sudah mulai. Mulai juga sebagian orang tua dipaksa memutar otak supaya anaknya bisa menikmati liburannya secara positif. Yang paling murah sih, biarkan anak anda di rumah sambil ditemani "sahabat" manusia jaman sekarang: televisi.
Murah bukan berarti bebas was-was. Coba anda perhatikan beberapa sinetron yang sedang naik tayang. Ada yang tokoh utamanya kalau kehilangan kesabaran berubah jadi seperti monyet. Ada yang tokoh utamanya masih pakai seragam sekolah sudah duduk dempet-dempetan sama lawan jenisnya. Ada juga yang ceritanya mengaku diangkat berdasarkan nilai-nilai agama tertentu, tapi kalau benar-benar kita simak....kok malah kayak film horor. Ada setannya lah, mahluk jadi-jadian lah, dan mahluk-mahluk irasional lainnya.
Alhamdulillah jika anda mampu menghadirkan fasilitas televisi berlangganan bagi buah hati. Acaranya jauh lebih mending. Eits, nanti dulu! Chanel untuk televisi berlangganan yang sengaja diperuntukkan bagi kalangan terbatas, tentunya juga harus kita konsumsi dengan bijak. kalau anak kita yang masih di bawah umur nonton chanel yang bukan untuk usianya, efek sampingnya ditanggung orangtua & si anak loh! Sebab televisi berlangganan kan datang ke hadapan kita atas permintaan pribadi. Jadi efek sampingnya, ya ditanggung sendiri juga dong. Nggak heran sejumlah televisi berlangganan sekarang menjual fasilitas parental lock, demi perasaan lebih aman bagi orang tua membiarkan anaknya menonton televisi sampai sepuasnya. Padahal kalau sudah di lock pun, apa sehat tuh nonton televisi seharian?
Ayo.....jadinya mau ngapain nih libur lebarannya? ;)
Friday, February 23, 2007
Dalam sebuah acara Bill Gates berbagi pengalamannya sebagai orang tua di era cyber.
Ia mengaku membatasi waktu anak-anaknya beraktifitas di depan komputer dan video games selama 45 menit di hari sekolah dan satu jam di akhir pekan. Bill dan istrinya, Melinda merasa bahwa setiap orang tua penting mengetahui apa saja yang dilihat dan dilakukan anak-anaknya ketika mereka berada di depan komputer, dan yang lebih penting lagi adalah untuk mengajak anak-anak berkomunikasi setelahnya (http://news.yahoo.com/s/nm/microsoft_gates_daughter_dc&printer=1;_ylt=AtxyCRuJBrZl20d2ODByothU.3QA).
Mudah-mudahan sih, ini bukan cuma sekedar kampanye public relations Gates untuk software terbarunya: Microsoft Vista, yang memiliki fasilitas kontrol bagi orang tua dalam mencatat situs-situs yang dikunjungi serta siapa saja yang diajak chat anak-anaknya
Saya cuma bengong. Nah lo…, dia mengontak saya hari senin untuk kerjasama promosi event di hari Sabtu? Ini bukan masalah ngerepotin ya…tapi kalau saya sih lebih nelongso karena kelihatannya teman saya ini tidak tahu bahwa berpromosi melalui radio tidak bisa efektif jika tidak dilakukan secara repetitif.
Keharusan memasang iklan secara repetitif ini disebabkan karena karakteristik media radio yang selintas dengar. Artinya, apapun yang kita simak di radio hanya berjalan selintasan. Misalnya, kita tidak bisa meminta secara khusus lagu yang barusan diputar penyiar dengan alasan karena tadi kurang menyimak (Idih…idih…emang stasiun radionya milik kamu seorang :)). Ini berlaku juga untuk iklan. Iklan radio baru akan efektif jika dipasang berulang kali. Makin sering iklan disiarkan, makin efektif penyampaian pesan yang dilakukan. Jadi, idealnya teman saya jauh-jauh hari sudah harus menyiarkan iklannya mau event-nya ramai dikunjungi penonton.
Ah, tapi ini baru satu kasus. Beberapa waktu lalu, saya sempat bertemu seorang pemilik usaha hiburan yang minta tolong petunjuk berpromosi di radio. Si pemilik usaha hiburan ini punya anggaran lumayan besar untuk promosi di radio. Sayangnya, ia cuma tahu iklan radio itu ada dua: yang secara live dibacakan penyiar saat siaran (bahasa radionya: adlibs) dan spot atau jingle iklan (iklan yang disiarkan dalam bentuk rekaman).
Padahal sebenarnya ada begitu banyak model promosi yang bisa dilakukan melalui media radio dan yang perlu diketahui calon pengiklan adalah bahwa setiap stasiun radio memiliki kebijakan berbeda dalam proses kreatif pemasangan iklan. Jadi kalau mau efektif beriklan melalui media radio, coba deh ikuti beberapa langkah berikut ini:
Hubungi bagian sales atau marketing atau promosi stasiun yang bersangkutan (karena bagian inilah yang menjadi jembatan antara calon pengiklan dengan bagian program –yang bertanggungjawab atas segala sesuatu yang disiarkan di stasiun tersebut-
Kemukakan kebutuhan promosi anda
(Seharusnya) Bagian sales atau marketing atau promosi akan meminta program director (sebagai penanggungjawab siaran) untuk memberikan masukan ide kreatif promosi (supaya promosi yang anda lakukan nggak melulu adlibs, spot atau jingle saja)
Kalau sampai bagian sales atau marketing atau promosi tidak menyarankan anda bertukar pikiran dengan program director, harap maklum. Terus terang sumber daya manusia di industri radio (barangkali juga di industri media jenis lain) kita (baca: Indonesia) belum semuanya dapat dipertanggungjawabkan. Oleh sebab itu, anda sebagai pihak “yang punya duit” yang sebaiknya meminta bertukar pikiran dengan sang program director. Program director-lah yang nantinya akan merealisasikan mimpi anda untuk mendapatkan promosi yang efektif di radio.
Selamat berpromosi melalui media radio :)
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengharamkan tayangan infotainment televisi karena dinilai tergolong ghibah alias bergosip (Koran tempo, 27 Juli 2006). Beberapa waktu kemudian Ketua Majelis Ulama Indonesia, Amidhan menyatakan sependapat dengan fatwa Nahdlatul Ulama yang mengharamkan isi infotainment yang menayangkan aib orang lain (Koran Tempo, 8 Agustus 2006).
Jujur aja nih, saya pernah jadi antek-antek (baca: pekerja lepas) salah satu rumah produksi yang program andalannya adalah infotainment. Lebih jujur lagi, saya juga lumayan rajin nonton infotainment di televisi nasional, lokal, maupun berbayar (baca: televisi kabel). Tapi dari lubuk hati yang paling dalam (kalimat sok serius ini saya ketikan demi menunjukkan kejujuran saya yang teramat sangat J) saya juga sering merasa terganggu dengan berbagai tayangan infotainment yang ada di televisi kita. Sayangnya siapa yang mau peduli dengan terganggunya seorang penyiar radio nggak ngetop yang juga pernah ikut ambil bagian dalam industri infotainment (Sumpah deh, saya cuma jadi narator dan sebelum tandatangan kontrak kerja, katanya program itu bergenre woman’s magazine bukan infotainment), seperti saya J
Yah…apa mau dikata….! Ketika kita hidup di dunia yang semuanya ditentukan dengan selera pasaran (Saya nggak salah ketik! Saya memang sengaja mengetikkan pasaran, bukan pasar J) seperti sekarang, mau tak mau ketidaksukaan segelintir orang yang tidak terhitung melalui penelitian kuantitatif akan dianggap angin lalu. PBNU dan MUI boleh seia-sekata, tapi toh Ilham Bintang pasang dada membela industri yang diciptakannya. Menurut Bintang (Koran Tempo, 27 Juli 2006), sejak 1997 sampai dengan 2006, tayangan infotainment Cek & Ricek yang diproduksinya “hanya” menyiarkan 55 artis yang bercerai.
Daripada kita terlibat dengan perdebatan antara kaum (yang mengaku) agamis dan kaum (yang tidak mengaku) penyebar gossip, mending kita ulik pernyataan Ilham Bintang sang pionir infotainment di Indonesia itu dari sisi penelitian media. Pernyataan Bintang bahwa tayangannya hanya menyiarkan 55 artis yang bercerai sepanjang sembilan tahun bisa dibilang pernyataan yang menyederhanakan permasalahan.
Mari kita lihat: sepanjang sembilan tahun hanya ada 55 artis yang dikabarkan bercerai oleh program hasil kemasan rumah produksi Ilham Bintang. Di Negara yang selebritis-nya sebanyak Indonesia (Gimana nggak banyak….satu kali nongol jadi figuran aja udah bisa masuk infotainment) jumlah tersebut memang tidak besar. Tapi, jangan salah! Kalimat tadi maknanya sangat buram.
Kok bisa buram? Mari kita lihat: misalnya, artis A bercerai. Artis B bercerai. Kalau menurut perhitungan Pak Bintang, kelihatannya contoh-contoh ini akan dihitung sebagai dua artis yang bercerai. Rasanya keponakan saya yang baru masuk TK juga tahu, hasil penjumlahan contoh tadi adalah dua. Sayangnya, keponakan saya, juga sebagian konsumen dan produsen media, tidak tahu (atau belagak tidak tahu) bahwa menghitung isi media tidaklah semudah pelajaran matematika anak TK.
Dalam penghitungan isi media dibutuhkan kemampuan interpretatif dan pengetahuan yang baik atas isi media yang akan dianalisa (Stokes, 2005). Kemampuan ini dibutuhkan karena untuk menganalisa isi media secara ilmiah, kita harus dapat menentukan terlebih dahulu kategori-kategori yang akan dianalisa.
Ilustrasinya: Untuk meneliti seberapa sering berita perceraian artis disiarkan sebuah program infotainment, maka peneliti terlebih dahulu wajib menetapkan periode program siaran yang akan diamati, misalnya: antara tahun 1997 sampai dengan 2006. Lalu berdasarkan tujuan penelitian, peneliti berhak membuat sejumlah kategori, contoh: Untuk mengetahui seberapa banyak tayangan infotainment menyiarkan berita perceraian artis, peneliti bisa membuat kategori penelitiannya atas jumlah pemberitaan kasus perceraian artis yang disiarkan sepanjang periode penelitian. Langkah selanjutnya adalah: peneliti mengamati dan menghitung jumlah tayangan sepanjang periode penelitian yang memberitakan kasus perceraian artis.
Jadi, kalau artis A tanggal 10 Agustus 2006 dilaporkan mengugat cerai istrinya yang dituduh selingkuh. Pada 11 Agustus 2006 istri artis A membuat konferensi pers menampik tuduhan suaminya. Lalu, pada 12 Agustus 2006 artis A dan pengacaranya membuat konferensi pers guna membeberkan bukti adanya perselingkuhan sang istri. Ditambah lagi pada 13 Agustus muncul pernyataan dari mertua artis A, bahwa tuduhan anaknya selingkuh adalah bohong belaka. Lantas diteruskan lagi dengan pemberitaan pada 14 Agustus 2006 yang mengambil potongan wawancara dengan Satpam rumah artis A yang mengaku pernah memergoki artis A “jalan bareng” seorang artis muda berbakat…Mari kita hitung bersama: Berapa kali berita kasus perceraian artis A muncul?
Jumlahnya bukanlah satu artis yang bercerai, melainkan: LIMA KALI, saudara-saudara sekalian! Ini penghitungan sederhananya:
Artis A dilaporkan mengugat cerai istrinya yang dituduh selingkuh.
Istri artis A membuat konferensi pers menampik tuduhan suaminya.
Artis A dan pengacaranya membuat konferensi pers guna membeberkan bukti adanya perselingkuhan sang istri.
Pernyataan dari mertua artis A, tuduhan anaknya selingkuh adalah bohong.
Potongan wawancara dengan Satpam rumah artis A yang mengaku pernah memergoki artis A “jalan bareng” seorang artis muda berbakat.
Dalam lima hari kasus perceraian artis A diberitakan sebanyak lima kali. Ini baru satu artis. Bayangkan kalau dalam waktu sama ada tiga artis yang dalam proses perceraian dan semuanya mendapatkan kesempatan yang sama dengan artis A untuk diberitakan dalam sebuah tayangan infotainment. Ada 15 kali pemberitaan perceraian artis yang muncul dalam 5 hari di sebuah tayangan infotainment. Harap diingat: Ini baru perumpamaan perhitungn pemberitaan kasus perceraian artis dalam satu program infotainment.
Kembali lagi ke pernyataan Ilham Bintang bahwa tayangan infotainment Cek & Ricek yang diproduksinya “hanya” menyiarkan 55 artis yang bercerai, sebagai “pemerhati infotainment”, kita semua harus mencerna dengan kritis hasil penghitungan Bintang. Apakah pernyataan tersebut maksudnya Cek & Ricek betul-betul hanya menayangkan 55 artis yang bercerai atau… sebenanya, Cek & Ricek menyiarkan berita 55 orang artis yang bercerai, lantas mengemasnya ke dalam sejumlah headline dengan penarikan angle yang beranekaragam. Sehingga, total pemberitaan kasus perceraian artis bisa menjadi jauh lebih banyak daripada jumlah artis yang sedang dalam proses perceraian.
Ah….namanya juga gossip. Makin digosok, makin syiiiiip…..
Wednesday, July 19, 2006
30 Oktober 1938
Jutaan warga Amerika Serikat gempar! Jalanan macet total, rumah-rumah ditinggalkan penghuninya, sistem komunikasi mengalami kemacetan. Pasalnya, mereka dikejutkan sebuah news bulletin yang disiarkan salah satu radio. News bulletin tersebut, menurut para pendengar, melaporkan mahluk mars telah menyerbu bumi. Selidik punya selidik, ternyata news bulletin tersebut adalah bagian dari sandiwara radio yang diangkat dari karya H.G. Welles, bertajuk “War of the Worlds” atau yang kemudian lebih dikenal dengan “Invasion from Mars”.
Setelah diguncang gempa, Warga Jakarta dikejutkan dengan berita terjadinya tsunami di Pangandaran. Berbagai pertanyaan muncul, “Apakah tsunami juga akan melanda Jakarta?” “Apakah ini tanda-tanda kiamat?” (Siapa juga yang bisa tahu kapan kiamat datang?)
BENAR:
- Pada 30 Oktober 1938 terjadi kepanikan massal di Amerika Serikat, saat 12 juta warganya menyimak sebuah sandiwara radio yang diyakini sebagai suatu berita yang benar (bukan hiburan) oleh sekitar satu juta warga Amerika Serikat (http://www.colostate.edu/Depts/Speech/rccs/theory29.htm).
- Bahwa di Pangandaran terjadi gempa di bawah laut berkekuatan 7,7 dan menewaskan 531 orang (data dari http://news.yahoo.com/s/ap/20060719)
SALAH:
- Tindakan Orson Welles mengemas sandiwaranya sehingga terdengar seakan-akan seperti sebuah news bulletin.
- Tindakan sebagian media massa (terutama elektronik) yang secara terburu-buru memberitakan tentang terjadinya tsunami di Pangandaran, saat pihak yang lebih berkompeten belum mengeluarkan pernyataan resmi.
- Tindakan sebagian media massa (terutama elektronik) pasca gempa Pangandaran dan sekitarnya yang menginterview narasumber dari orang awam yang dianggap menjadi saksimata dengan mengajukan pertanyaan teknis, seperti: benarkah terjadi tsunami? (Lah, emangnya kita semua pernah dapet pelajaran tentang bedanya tsunami dengan gelombang pasang biasa?)
MENGAPA SALAH?
Kejadian sandiwara radio Orson Welles melahirkan teori komunikasi yang menyatakan bahwa isi media massa dapat berpengaruh langsung pada audience. Teori ini dikenal sebagai Teori Jarum Suntik (Hypodermic Needle Theory) atau Magic Bullet Theory. Artinya, apapun yang disajikan media massa, masyarakat akan langsung mempercayainya. Buktinya? Lihat lagi kejadian di tanggal 30 Oktober 1938 di atas!
Memang di jaman sekarang teori yang muncul pada tahun 1920an dan 1930an ini sudah dianggap basi. Berbeda dengan masa tahun 20an atau 30an, masyarakat jaman sekarang (kebanyakan) cenderung tidak hanya secara pasif menerima pesan yang disampaikan media massa. Tidak lagi seperti dasar pemikiran teori Jarum Suntik (Hypodermic Needle Theory) atau Magic Bullet Theory, yang menganggap semua manusia, tanpa kecuali menerima dampak yang sama dari isi media yang dikonsumsinya.
KENYATAANNYA:
Tapi kelihatannya, teori ini kadang masih berlaku di beberapa tatanan masyarakat. Mengingat rata-rata (ini asumsi saya, loh!) masyarakat Indonesia masih belum melek media (baca: masih he-eh aja dengan apa yang diberitakan medianya), nggak heran kemarin ada orang-orang yang was-was mendengar berita gempa dan tsunami di pesisir selatan Jawa.
LANGKAH SELANJUTNYA:
- Buat konsumen media, jangan buru-buru panik kalau ada informasi dari media massa. Saatnya kita untuk cari akses informasi lain, telepon saudara yang ada di daerah bencana atau pihak yang lebih berkompeten, misalnya (walau kadang jawabannya sama basinya dengan berita media.
- Buat pekerja media massa, sadarlah! Kalau masyarakat panik, anak, istri, suami, calon istri & suami, sahabat, dan handai taulan anda bisa jadi salah satu diantaranya. Tega amat bikin angka sakit jantung di Indonesia meningkat seiring dengan meningkatnya rating atau penjualan media! Pada suatu waktu (Insya Allah), konsumen akan lebih cerdas dan cermat dalam mengkonsumsi medianya. Di saat itu anda akan sadar, ternyata mencari dan mengemas berita tidaklah semudah yang anda bayangkan.
Wednesday, July 05, 2006
TAPI KALAU KONSUMENNYA IKUT-IKUTAN?
Jam makan siang kemarin, saya sempat ngobrol dengan seorang teman yang punya production house. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, teman saya bercerita tentang kisah suksesnya memproduksi sebuah program televisi yang sedang ditayangkan salah satu televisi swasta nasional di Indonesia. Rating programnya baik, iklan ok, tapi……, menurut pria yang sudah belasan tahun berbisnis production house ini, hasil produksi (sebagian) program televisi yang di outsource ke production house seperti kembali ke kualitas lima tahun lalu.
Kualitas yang menurun, menurut pengamatannya bukanlah disebabkan oleh penurunan kualitas pekerja production house tapi lebih dikarenakan pihak production house berusaha keras menekan biaya produksi. “Bayangin, tan! Saya pernah kasih harga 25 juta (tanpa mark up) untuk produksi eh…ada yang berani kasih harga 7,5 juta!”
Tidak akan ada ayam kalau tidak ada telur. Production house tidak akan menekan harga habis-habisan kalau tidak ada pemicu. Kembali ke cerita teman saya itu, production house menekan harga mati-matian terutama dikarenakan ingin programnya diambil oleh stasiun televisi tergabung dengan sebuah kelompok media besar. Dengan demikian, akses menjual program ke televisi, atau media lain, dan juga bisnis pendukung media (production house atau advertising agency, misalnya) yang dimiliki konglomerasi media yang bersangkutan, juga biasanya makin mudah. Nggak apa menekan harga (yang alih-alih menurunkan kualitas) demi bisa masuk media yang dimiliki sebuah raksasa media.
Praktek sebagaimana yang anda baca di paragraf sebelumnya, biasa disebut sebagai konsentrasi kepemilikan media. Salah satu tujuan konsentrasi kepemilikan adalah efisiensi biaya. Konotasi kata efisiensi mestinya, tidak harus negatif. Sayangnya kebanyakan praktek konsentrasi kepemilikan menunjukkan bahwa efisiensi = negatif.
Negatif sebab dengan efisiensi sering menyebabkan mengerucutnya jumlah pegawai karena dua perusahaan media di merger jadi satu. Negatif karena efisiensi menyebabkan banyak perusahaan media membangun bisnis medianya dari barang mentah sampai barang jadi (bukan cuma punya stasiun televisi tapi juga punya production house sehingga biaya produksi bisa ditekan, contohnya. Kan, sister company…) yang akhirnya menyebabkan orang atau organisasi di luar kerajaan bisnis media tersebut sulit menembus masuk.
Ilustrasi negatifnya efisiensi di atas, kalau saya teruskan bisa bikin mata kita berair (saking banyaknya daftar hal negatif dari efisiensi dalam bisnis media). Untuk mengembalikan tulisan ini ke obrolan makan siang saya kemarin, coba kita lihat apa korelasinya antara efisiensi dengan kita-kita ini yang doyan (atau nggak punya pilihan) mengkonsumsi media.
Tren manajemen media jaman sekarang di seluruh dunia adalah melakukan konsentrasi kepemilikan. Daripada punya satu stasiun broadcast mending punya beberapa, supaya profit makin besar. Daripada outsource materi berita mending bikin kantor berita sendiri…supaya harga bisa ditekan. Daripada susah-susah bikin kreatif program bikin siaran relay aja sama stasiun lain yang sudah punya program baru. Lebih irit & nggak usah pusing cari berita.
Kalimat-kalimat di atas adalah kalimat yang akan keluar jika kita memandang konsentrasi kepemilikan dari sisi pebisnis. Sementara nasib kita konsumen media adalah menikmati segala hasil efisiensi yang disajikan media saat ini. Bayangkan jika di awal tulisan saya mengilustrasikan ada production house yang berani menekan harga di bawah separuh harga normal produksi , betapa (cenderung) dibawah rata-ratanya hasil produksi mereka? Supaya lebih mudah membayangkan, cobalah saksikan beberapa program di televisi saat ini. Ada reality show yang gambarnya seperti diambil dengan handycam (jangan-jangan memang mereka syutingnya pakai handycam. Kan supaya murah…). Ada yang suaranya kurang jelas dan lebih banyak suara ruangnya (baca: seperti kita bicara di dalam gua alias gaungnya besar) dan hasil-hasil produksi seadanya yang lain.
Bisnis media kelihatannya makin seksi di mata pelaku bisnis. Nggak heran, seorang veteran broadcaster yang sekarang jadi aktivis pernah bilang, “Media sebelum reformasi dikuasai pemerintah, media sesudah reformasi dikuasai pengusaha.” Kalimat tersebut menggambarkan betapa roda industri media di Indonesia tak pernah lepas dari kungkungan pihak berkuasa. Dulu pemerintah dan kroninya, sekarang pemilik modal dan kroninya.
Kalau sudah begini, apa sebaiknya sebagai konsumen media kita juga melakukan efisiensi konsumsi media? Supaya pihak media sadar, kalau terus-terusan diberi barang dagangan seadanya, lama-lama barang dagangan itu bisa ditinggal pembeli!
Wednesday, June 28, 2006
Semalam (tepatnya menjelang tengah malam), sebuah stasiun televisi swasta nasional dalam program beritanya melaporkan demonstrasi buruh di daerah Bogor, Jawa Barat yang terjadi siang harinya (27 Juni 2006). Kasusnya klise: pemilik modal tidak membayar gaji para buruh berbulan-bulan.
Laporannya juga klise: berisi berita dengan narasi dibacakan pihak stasiun televisi tentang pengusaha yang tidak membayar-bayar gaji para buruh (tanpa disertai pernyataan dari pihak pengusaha). Yang mengganggu dari berita tersebut adalah karena di bagian akhir, pihak stasiun memperlihatkan potongan wawancara seorang buruh perempuan yang sesenggukan (sampai kalimat yang diucapkannya tidak jelas) karena berhutang sampai satu juta rupiah ke beberapa warung demi menghidupi anak-anaknya. Durasi wawancara (eh…masih bisa dibilang wawancara nggak ya, kalau apa yang diucapkan narasumber sama sekali nggak jelas dari awal sampai akhir?) berisi tangisan ini bisa dibilang cukup panjang dibanding panjang segmen berita berisi demonstrasi buruh tersebut, yang hanya 2 sampai 3 menit-an.
Lazim, gaji tidak dibayar berbulan-bulan, buruh demonstrasi sampai menitikan air mata. Lazim, pemirsa terbawa emosi, karena kita berempati: Waduh, gimana kalau kita yang gajinya nggak dibayar berbulan-bulan? Terus? Kenapa harus ada tulisan ini di serampangan-bermedia? Mestinya, ka nisi blog ini adalah kritik terhadap praktek media?
Tulisan ini ada karena diantara kelaziman-kelaziman tadi, ada yang tidak lazim. Potongan wawancara buruh perempuan yang sesenggukan sampai kalimat yang diucapkannya tidak jelas, secara teknis bukanlah pesan yang efektif akan sampai ke pemirsa. Iya lah…, si buruh ngomong apa aja nggak kedengeran! Di luar masalah teknis penyampaian pesan, mengekspose adegan tangis-tangisan (kelihatannya) sudah jadi kegemaran stasiun-stasiun televisi di Indonesia. Maklum (menurut saya), kebanyakan orang Indonesia mudah tergugah dengan tangisan, merasa iba, tapi cepat lupa juga dengan kesusahan sesama.
Kemudah kasihanan (atau jangan-jangan, kita hanya menikmati tanpa rasa kasihan?) orang Indonesia akan tayangan yang berisi isak tangis ditanggapi cepat para “pengusaha” media. Bukan cuma dalam tayangan berita, tapi juga dalam berbagai tayangan hiburan, kita bisa melihat banjir air mata. Mudah-mudahan anda masih ingat salah satu program pencarian bakat, yang durasi peluk-pelukan & tangis-tangisan peserta yang tersingkirnya lebih panjang daripada durasi mereka menampilkan bakatnya di atas panggung. Belum lagi sinetron yang juga tak jauh dari kesusahan-kesusahan (walau akhirnya berakhir dengan kebahagiaan) yang juga penuh isak tangis. Intinya hanya satu: para “pedagang” media ingin isi medianya lebih “hidup”
Berita buruh yang demonstrasi sudah kabar biasa. Reality show dan sinetron dengan persaingannya yang luar biasa, membuat ide program atau ide cerita menjadi biasa-biasa saja. Maklum, para pekerja (yang katanya) kreatif sudah mulai kelelahan berlomba ide dengan pesaingnya. Jadi, demi “menghidupkan” program dicarilah scene-scene emosional yang salah satu bentuknya adalah tangisan.
Dramatisasi dalam informasi & hiburan di media massa adalah hal biasa (tapi tidak benar & tidak etis) yang terjadi dalam praktek media di berbagai negara. Misalnya, sebuah stasiun televisi di Las Vegas, KLAS, dalam liputannya tentang kasus penembakan di sebuah kasino (Baran, h. 480, 2004). Berita kasus kriminal yang berhasil terliput, ternyata “membosankan” dan dinilai butuh “sentuhan” agar terasa lebih hidup. Jadilah, manajemen media “menempel” suara-suara slot machine, perbincangan, dan juga tembakan di gambar hasil liputan para pekerja media yang sebelumnya dinilai membosankan. Hasilnya? Berita terasa lebih hidup.
Ujung-ujungnya, dari berbagai sentuhan dramatis di media massa adalah harapan meningkatkan jumlah audience yang nantinya akan meningkatkan juga perolehan iklan bagi media massanya. Masalahnya, jika terus-terusan disuguhi isak tangis, kapan kita mau mulai menjadi bangsa yang tabah? Hidup sudah berat, haruskah media massa mengeksploitasi kesusahan hidup demi kebahagiaan segelintir pemilik modal?
Wednesday, June 21, 2006
Teman saya yang seorang psikolog kemarin bercerita tentang pengalamannya diwawancara media. “Diwawancaranya lama, tapi yang dimasukin (ke dalam isi media) sedikit.” Bagi praktisi media massa, hal tersebut yang biasa dikenal dengan proses seleksi isi media, adalah hal yang dianggap wajar. Alasan tindakan penyeleksian isi media bisa macam-macam. Dikejar deadline, mempertahankan lay out, atau yang lebih politis adalah untuk membentuk opini publik.
Mau karena alasan politis atau alasan bisnis seperti terkejar deadline, pada akhirnya proses seleksi berakhir dengan pembentukan opini publik. Sebagai konsumen media, tinggal pintar-pintarnya kita, untuk menyeleksi hasil seleksi isi media yang dipublikasi oleh manajemen media massa melalui medianya. Kalau tidak? Ya, tinggal terima opini (atau jangan-jangan, sekaligus logika) kita diobok-obok oleh para kapitalis media.
Monday, June 19, 2006
Seorang teman mengirimkan email dengan judul: “Detoks Kaki: Terapi atau Penipuan?” Intinya, artikel ini mengulas sistem terapi detoks dengan cara merendam kedua kaki ke dalam sebuah bak yang terhubung ke sebuah alat. Sahibul hikayat, terapi ini bias mengeluarkan racun dari dalam tubuh melalui kaki. Setelah sekitar 30 menit merendam kaki ke air di dalam bak, maka air yang tadinya jernih akan menjadi berwarna (kata beberapa teman yang sudah coba, warna air berubah tergantung dari kondisi kesehatan tiap orang, ada yang jernih agak keruh, ada yang sangat keruh). Lebih lanjut, menurut si pengirim artikel (Yang entah siapa pengirim awalnya. Namanya juga dunia maya, makin tidak jelas pengirim makin asyik beritanya) , Terapi detoks dengan merendam kaki itu hanyalah penipuan! Tujuannya sederhana, supaya orang yang sudah p er nah mencoba alat detoks melalui rendam kaki ini, nantinya tertarik membeli alat detoks dengan harga sampai jutaan rupiah (lagi-lagi, menurut artikel yang saya terima melalui email). Dalam artikel disebutkan ada sejumlah media massa yang pernah meliput terapi detoks (yang katanya) tipuan itu. Sayangnya, media-media tersebut justru mengulas dari kebergunaan alat detoks yang (lagi-lagi, katanya) hanya tipuan belaka itu.
Semestinya, laporan di media, sesuai dengan salah satu fungsi media massa adalah sebagai sumber informasi untuk massa untuk memberikan sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sayangnya, hampir semua media massa jaman sekarang hadir bukan untuk memenuhi fungsi-fungsi aslinya, melainkan untuk profit pemilik. Jadi tidak usah heran, kalau menemukan sesuatu yang kurang (atau tidak dapat sama sekali) dipertanggungjawabkan. Usaha membatasi kesemena-menaan orang-orang kaya (yang ingin lebih kaya lagi) di media untuk memilintir informasi memang tak jarang dilakukan. Misalnya, ada kode etik yang menyebutkan bahwa pelaporan informasi yang bersifat iklan (atau advertorial, istilah halusnya) harus dilakukan dengan membuat pagar pembatas yang membuat pembaca sadar, bahwa ia bukan sedang membaca iberita, tapi sebuah materi promosi.
Prakteknya? Tetap saja, tuh! Banyak sekali materi di media massa yang sebenarnya bukan berita, tapi kita anggap berita. Maklum, sebagian besar dari kita kan tidak dibekali keterampilan jurnalistik untuk membedakan mana yang berita mana yang bukan.
Akal-akalan supaya barang dagangan dipercaya konsumen sebagai berita bukan cuma kejadian di Indonesia. Newsweek (13 Maret 2006) melaporkan terlalu banyak informasi kesehatan membuat masyarakat Amerika Serikat bingung. Penelitian terdahulu bilang, konsumsi kopi menyebabkan hipertensi dan penyakit jantung. Eh…, tahun 1990 ada lagi penelitian yang bilang konsumsi kopi bisa mengurangi kemungkinan parkinson dan diabetes.
Ternyata…oh ternyata…, sejumlah penelitian kesehatan yang dipublikasikan melalui media massa di Amerika Serikat, banyak yang merupakan penelitian pesanan atau buatan produsen produk-produk kesehatan. Tak heran, divisi public relations masing-masing perusahaan langsung menyebarkan hasil-hasil penelitian kesehatan tersebut melalui media-media massa. Bisa jadi tujuannya adalah demi kebaikan (penjualan?) perusahaannya atau organisasinya. Tidak ada salahnya mempublikasikan sebuah penelitian (yang dianggap) ilmiah. Masalahnya, kolom-kolom ataupun sound bites media massa tak mampu menjabarkan secara detil hasil penelitian ilmiah, di mana end user-nya adalah masyarakat awam.
Kalau sudah begini, siapa yang salah? Media massa? Public Relations? Konglomerat? Daripada terus berwacana siapa yang salah, lebih baik sebagai konsumen, kita semua sepakat: Media penjual omong kosong jangan dikonsumsi! Mereka ada karena kita. Putuskanlah media mana yang paling tepat untuk anda dan keluarga sekarang juga!
Monday, June 12, 2006
Munculnya wajah Titik Soeharto di tengah pesta olahraga terbesar dunia (kata banyak orang) 2006 bikin banyak pihak berkomentar. Kurang seru rasanya kalau ditengah obrolan sesama pecinta sepak bola tidak disisipkan komentar tentang “Kenapa Titik Soeharto, ya…. yang nongol di piala dunia SCTV? “ Belum lagi tanggapan yang dipublikasikan media massa (Misalnya, baca detik.com: detikcom Polling 78% Gibol Terganggu oleh Titik ) ada yang pro ada yang kontra dengan munculnya Titik Soeharto di piala dunia ala SCTV. Masih dari situs berita yang sama, dilaporkan bahwa Komisi Penyiaran Indonesia dan DPR membahas munculnya Titik di layar kaca ( detik.com: Mbak Titik Dirumpiin Komisi I DPR & KPI). Malahan sampai ditelaah dari sisi komunikasi politik segala! (baca: detik.com: 3 Skenario Titik Soeharto di Mata Peneliti ).
Daripada ikutan membuat “agenda terselubung” (kalau memang ada) Mbak Titik malah jadi agenda publik, mending kita lihat “fenomnena” Mbak Titi di Piala Dunia lewat kacamata praktisi broadcast yang sedih melihat pola rekrutmen talent di dunianya. Kalau saja nama belakang presenter yang mendadak sontak kondang ini bukan Soeharto, barangkali kita tidak akan memandang kemunculannya sebagai sebuah agenda politik. Paling kita akan berkomentar, “Lah…kok ada ibu-ibu jadi presenter bola (Mohon maaf untuk para ibu, bukannya ibu-ibu nggak boleh jadi presenter sepak bola, loh!), mana ngomongnya (bahasa keren broadcast-nya adlibbing) kadang terbata-bata, komentarnya juga kurang ok?”
Komentar seperti itu, yang mengkritik penampilan sebagian presenter televisi dengan kompetensi minim lumayang sering mengemuka dari mulut pemirsa televisi Indonesia. (Ayo ngaku….seberapa sering anda mengomentari presenter infotainment yang nada bicaranya seperti robot?) Intinya, banyak talent yang direkrut dengan prasyarat lebih bersifat fisik atau akan lebih menjual dibanding talent lain yang barangkali justru punya talent lebih sebagai seorang broadcaster (saya jadi baru kepikiran, jangan-jangan manajemen stasiun televisi lupa kalau presenter semestinya didik sebagai broadcaster, bukan sekedar performer).
Terlepas dari ada tidaknya agenda politik dibalik kemunculan Titik Soeharto dalam piala dunia, yang jelas, setiap media dan orang yang tampil di dalamnya akan punya agenda sendiri-sendiri. Bisa agenda politik, agenda mengeruk duit belanja iklan, dan agenda-agenda lain. Agenda-agenda tersebut akan dikonsumsi masyarakat dalam jumlah sangat besar (sulit diprediksi jumlah pasti penerima pesan dalam komunikasi massa) yang terpisah lokasi saat menyimak medianya (McQuail, 2004).
Mudah-mudahan munculnya Titik Soeharto bukanlah sekedar agenda yang tiba-tiba muncul dari pikiran si mbak, “Ah…enak juga nih jadi presenter tv!”. Kasihan dong, bibit-bibit presenter berkualitas jadi nggak bisa nongol di layar kaca karena si mbak (yang notabene punya jaringan luas di kalangan pebisnis, termasuk pebisnis media) mendadak pingin jadi presenter. Apalagi para penonton, yang cuma bisa melongo di depan televisi sambil terus-terusan dicekoki berbagai agenda oleh pemilik, manajemen, ataupun kelompok dan pribadi yang punya akses lebih dalam mengontrol sosok-sosok yang hadir di media massa.
Thursday, June 08, 2006
Tadi pagi, beberapa orang sempat berbagi kekhawatiran melihat cuaca Jakarta yang mendung luar biasa. Maklum beberapa hari belakangan muncul isu 6-6-6 dan isu gempa yang (katanya) juga bakal kejadian di Jakarta. Sampai-sampai Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengimbau warga ibu kota tetap tenang menyikapi isu yang menyebutkan Jakarta bakal dilanda gempa (bisnis.com, 07/06/06).
Orang-orang yang khawatir dengan cuaca Jakarta ini bukan cuma mereka yang status sosial ekonominya menengah bawah, loh! Malah jangan-jangan yang status sosial ekonomi menengah atas justru lebih banyak terekspose sama isu-isu ini. Lah wong isunya bertebaran dimana-mana...Di infotainment di TV ada...denger radio ada...baca media cetak ada...browsing situs berita, chatting, sampai di milis juga ada (bahkan sebagian ibu-ibu di Amerika Serikat juga ikutan ogah melahirkan pas 6-6-6, menurut yahoo news).
Menurut Emmanuel Subangun (Kompas, 07/06/06),"Pengertian "mito"logi jangan disepelekan sebagai lebih rendah dari "tekno"logi. Cara berpikir 'mito' sama indahnya dengan 'tekno' ". Jadi, salahkah kalau media mengekspose keindahan mitologi? Tidak juga, selama mitologi itu diekspose bersama indahnya teknologi [cover both sides, remember? ;)]. Sayangnya, banyak content media yang justru menitikberatkan pada sisi mitologi supranaturalnya (Dengan alasan: "Abis ratingnya tinggi sih! Artinya kan konsumen suka!" Mereka lupa bahwa fungsi media salah satunya mencukupi kebutuhan konsumen, bukan cuma keinginannya, sementara rating adalah alat ukur keinginan konsumen.).
Hari Sabtu kemarin, keponakan saya dengan muka polos bercerita tentang satu gua dekat tempat tinggalnya yang ada "penunggunya". Tegakah kita meneruskan tradisi supranatural (yang di beberapa negara jelas-jelas dilarang menjadi content media) ke keponakan, anak, cucu, cicit kita, cuma dengan alasan mengejar rating?