Showing posts with label media on-line. Show all posts
Showing posts with label media on-line. Show all posts

Thursday, April 03, 2008

KOK MARAH?

Akses terhadap situs YouTube terancam diblokir bila dalam dua hari tidak membuang Fitna dari content mereka. Aksi pemblokiran akan dilakukan oleh ISP se-Indonesia dengan koordinasi Depkominfo. Demikian kata Menkominfo M. Nuh (Detik.com, Selasa, 1/4/1008)."Menurut M. Nuh surat permintaan Pemerintah RI terhadap pengelola YouTube telah dilayangkan pagi ini.
Waduh, baru beberapa hari Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) diberlakukan sudah ada tindakan yang menurut saya berlebihan. Terus terang, saya belum nonton Fitna & sempet jengkel waktu dengar kabar beredarnya film ini.
Tapi, mendengar penjelasan Cak Nun di sebuah interview radio, mendadak saya malu. Cak Nun kurang lebih bilang, kalau Rasulullah menonton film itu, pasti Rasulullah akan tersenyum. Ngakunya Muslim modern yang berpikiran terbuka dan bangga Indonesia mulai latihan berdemokrasi. Lantas kenapa marah ada orang yang berpendapat berbeda?

Friday, January 04, 2008

KLENIK DI MEDIA KITA
Mantan Presiden RI, Soeharto masuk rumah sakit, sudah tentu bakal jadi headline besar. Terlepas dari benar tidaknya perilakubapak sepuh ini beserta keluarga besarnya, jengkel rasanya membaca headline di detik.com yang di-posting dengan judul Rahasia Umur Panjang Soeharto (1)Laku di Gunung Lawu (Jumat, 4 Januari, 17.28 WIB). Artikel tersebut kurang lebih bercerita tentang bagaimana cara Presiden Soeharto bisa berumur panjang (Lah, namanya juga umur. Terserah Sang Pencipta dong untuk merengutnya dari kita!), yang dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan klenik. Eh, masih dilanjutkan pula dengan headline yang di-posting pada pukul 18:16 WIB berjudul Rahasia Umur Soeharto, Paranormal & Longsornya Gunung Lawu dan pukul 17:48 WIBdengan headline: Rahasia Umur Panjang Soeharto (2)Mbak Tutut dan Keris Kraton Solo.
Hari gini...., masih aja ada media yang menggembar-gemborkan isu klenik ke hadapan masyarakat. Pasca sejumlah stasiun TV mendapat teguran KPI karena menayangkan sinetron dan program berbau klenik, eh...malah media on-line yang mengakat isu ini.
Media adalah alat penyebaran informasi yang juga sekaligus alat pembelajaran. Inginkah praktisi media menyesaki kepala masyarakat Indonesia dengan persoalan klenik dan mistis? Atau sekedar mencari headline supaya situsnya banyak di-klik, demi meraup lebih besar lagi uang pengiklan?