Thursday, January 31, 2008

MASIH ADAKAH TEMPAT BAGI AIR PERSONALITY?



Sekitar sebulan lalu, saya menyaksikan program berita hiburan (tak tega rasanya menyebut program-program yang isisnya informasi selebriti ini sebagai infotainment) SILET di RCTI. Seperti biasa isinya ya...sama dengan program sejenis lainnya, tak jauh dari kehidupan para selebriti Indonesia yang diulik permukaannya saja.

Menjelang akhir program, diinformasikan bahwa dibuka kesempatan menjadi pembawa acara SILET. Salah satu persyaratannya adalah: BISA MEMBAWAKAN ACARA SEPERTI FENNY ROSE &....( aduh....maaf mbak yang satunya saya lupa namanya). Menyedihkan, ketika industri pertelevisian Indonesia (katanya) semakin maju, kok justru tak ada tempat bagi pribadi yang unik sebagai pembawa acara?

Padahal seorang presenter atau penyiar yang baik mestinya memiliki air personality. Bahasa mudahnya, seorang presenter/penyiar HARUS memiliki karakter pribadi yang unik dan berbeda dengan rekan sejawatnya. Saat Larry King atau Oprah Winfrey pensiun, tak ada yang bisa menggantikan mereka sebagai Oprah atau King. Broadcaster lain bisa sesukses atau bahkan jauh lebih sukses mereka, tetapi dengan keunikan kepribadian sendiri.

Beberapa tahun lalu, sebuah stasiun radio swasta di Jakarta mengganti penyiar program siaran paginya. Pasangan penyiar pengganti dihujat habis-habisan oleh pendengar. Mereka merindukan penyiar yang lama. Bukan karena penyiar lama lebih baik daripada yang baru. Melainkan karena yang baru dan yang lama memiliki karakter berbeda. Bulan demi bulan berlalu, pendengar yang protes pun mereda dan muncullah pendengar-pendengar loyal lain. Intinya, penyiar/presenter dengan air personality, adalah mereka yang akan dinanti dan dirindukan audience karena berbeda dengan personality lain.

Yah...kita nantikan muka presenter SILET yang baru dengan karakter yang masih seragam. Mudah-mudahan kali ini saya bisa ingat namanya



SMS SEJAK DINI




Hampir setiap pagi saya menyaksikan Kartun Serial "Avatar" di Global TV & hampir setiap hari juga saya "terpaksa" menyaksikan iklan-iklan dalam jeda program tersebut yang rasanya...tidak tepat bagi anak-anak (yang merupakan target audience program ini?). Hampir seluruh slot iklan berisi iklan makanan ringan (yang saya kira berkadar gula & karbohidrat tinggi).

Eh
, tapi itu masih mending sih....dibanding sebagian slot iklan lain yang diisi dengan iklan-iklan sms premium dengan beragamlayanan. Mulai dari SMS chat date ke 9554, Ramalan ke 9200, SMS LUCU (isinya katanya sih humor-humor segar) ke 9200, dan satu lagi SMS ramalan ke nomor yang sayang sekali saya lupa.

Menyedihkan, selain anak-anak penggemar serial Avatar berkemungkinan besar menjadi konsumen makanan kurang (kalau nggak mau disebut makanan yang sama sekali) tak sehat. Mereka juga disosialisasikan sejak dini dengan kebiasaan ber-sms premium yang gunanya???? Ah...siapa juga yang tau kegunan pastinya?

Monday, January 14, 2008

AJAIBNYA SINETRON INDONESIA

Kebanyakan film dan sinetron kita tanpa arah, miskin pengembangan akal budi, sehingga sangat membahayakan. Demikian akar persoalan yang terungkap dari perbincangan Kompas ( diterbitkan 14 Januari 2008) dengan sosiolog Imam B Prasodjo.

"Saya mencermati, film dan sinetron kita dewasa ini banyak tanpa arah," kata Imam. Menurut dia, kreativitas di industri perfilman dan sinetron jangan hanya sekadar motif menghibur. Mestinya, pada saat yang sama produk budaya tersebut harus mendorong energi positif."Kenyataannya, film dan sinetron yang ditayangkan di layar kaca dan ditonton banyak keluarga cenderung mengeksploitasi hiburan, mempertontonkan kepura-puraan, emosi yang tidak terkendali, rasa takut, amarah, dan sebagainya yang kurang bernilai positif," kata Imam.

Wah, jadi ingat! Minggu 2 Desember 2007, secara kebetulan saya menyaksikan sinetron “Eneng dan Kaus Kaki Ajaib” di RCTI. Acara yang kelihatannya diperuntukkan bagi anak-anak ini (dilihat dari judul dan jam tayangnya serta pemainnya) sarat muatan bernilai asosial yang digambarkan melalui tokoh-tokohnya, seperti:
  1. Tokoh Petugas Keamanan: seringkali mengeluarkan kata-kata kasar dan makian.
  2. Tokoh Happy, “si orang paling kaya di Bojong Kidul”: Selain berulangkali mengeluarkan kalimat bernada “kalau ada uang semua bisa beres” juga sering mengeluarkan kata kasar, berbicara dengan nada tinggi (yang kesannya tokoh ini selalu marah). Bahkan dalam salah satu adegan terlihat tokoh ini menjewer telinga salah satu peran anak-anak.
  3. Tokoh pasangan suami istri: Tokoh Istri yang sedang jalan-jalan di pusat perbelanjaan memaksa suaminya membelikan pakaian. Oleh karena tokoh suami menolak, si istri yang secara kebetulan menemukan dompet jatuh milik orang lain berniat membelanjakan uang dalam dompet tersebut. Sementara tokoh suami, kendati sempat menghalangi niat sang istri pada akhirnya takluk juga dengan paksaan sang istri dan justru menemani istrinya berbelanja.
  4. Tokoh 5 anak-anak: digambarkan kerap mengelabui orang dewasa demi melakukan tindakan yang cenderung “kriminal”. Seperti membeli baju dan meninggalkan KTP milik Pak RT di kasir sebagai jaminan. Dalam adegan lain, anak-anak ini digambarkan makan di restoran dan meminta bon pembayaran digabung dengan bon milik Pak RT yang sedang makan di meja yang berbeda dalam restoran yang sama.


Sungguh menggelisahkan, menyaksikan tayangan yang seakan diperuntukkan bagi anak-anak tapi penuh muatan yang sarat kebencian, kedengkian, ketamakkan, dan kekasaran. Pantas, praktek kekerasan, bahkan yang dilakukan oleh anak-anak di negeri "miskin hati" ini semakin menggejala.

Monday, January 07, 2008

SINETRON DAN JAKARTA-isme


Artikel (yang sudah saya edit) di bawah ini rasanya bisa memperkuat argumen dalam tulisan berjudul SELAMAT TAHUN BARU (KHUSUS WARGA JAKARTA) di blog ini yang mempermasalahkan tentang Jakarta-isme:

Nonton Sinetron, Remaja Jadi Rentan Konflik

KapanLagi.com - Sinetron yang ditayangkan di stasiun televisi sebagian besar berkiblat pada kebudayaan metropolitan ternyata mempunyai pengaruh negatif bagi remaja yang sering menontonnya, dan bahkan mereka rentan terhadap konflik. "Jika mental dari para remaja kita di daerah belum siap terhadap pengaruhnya, tidak hanya rentan terhadap konflik tetapi juga mereka akan salah dalam pergaulan dan bersikap, kehilangan identitas pribadi, dan sulit menyesuaikan dengan komunitas di tempatnya," kata pakar kebudayaan populer Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Drs. Redyanto Noor, M.Hum., di Semarang. Saat ini, kata dia, sinetron-sinetron remaja yang ditayangkan di televisi sebagian besar berkiblat pada kebudayaan kota metropolitan Jakarta, yang berkolaborasi dengan kemajuan media massa elektronik sehingga penayangannya sampai ke daerah-daerah.

Redyanto sendiri menyatakan tidak setuju dengan adanya penayangan sinetron tersebut karena yang ditampilkan tak seragam, seolah ada pengakuan bahwa remaja yang modern itu harus seperti yang ada di Jakarta. "Padahal pengertian modern itu kan lebih ke cara berpikir remaja itu sendiri," katanya.

Ia memprediksi penayangan sinetron itu akan mengakibatkan evolusi kebudayaan yang akan mengubah kebudayaan-kebudayaan di daerah secara perlahan. Bahkan, kata dia sekarang yang terjadi adalah revolusi yang cepat, bukan hanya evolusi yang perubahannya berlangsung secara perlahan. "Mula-mula yang diubah dari remaja-remaja di daerah itu adalah penampilan, seperti pakaian, model rambut, konsumsi makanan, dan kendaraan," katanya.

Di sisi lain diakuinya bahwa tidak semua sinetron yang berbau kebudayaan metropolitan itu berdampak buruk. Ada pula sisi positifnya, yakni remaja-remaja di daerah menjadi lebih berpeluang untuk mengembangkan pengetahuan yang hampir tanpa batas dengan adanya penayangan sinetron yang menampilkan kemajuan teknologi.

Friday, January 04, 2008

KLENIK DI MEDIA KITA
Mantan Presiden RI, Soeharto masuk rumah sakit, sudah tentu bakal jadi headline besar. Terlepas dari benar tidaknya perilakubapak sepuh ini beserta keluarga besarnya, jengkel rasanya membaca headline di detik.com yang di-posting dengan judul Rahasia Umur Panjang Soeharto (1)Laku di Gunung Lawu (Jumat, 4 Januari, 17.28 WIB). Artikel tersebut kurang lebih bercerita tentang bagaimana cara Presiden Soeharto bisa berumur panjang (Lah, namanya juga umur. Terserah Sang Pencipta dong untuk merengutnya dari kita!), yang dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan klenik. Eh, masih dilanjutkan pula dengan headline yang di-posting pada pukul 18:16 WIB berjudul Rahasia Umur Soeharto, Paranormal & Longsornya Gunung Lawu dan pukul 17:48 WIBdengan headline: Rahasia Umur Panjang Soeharto (2)Mbak Tutut dan Keris Kraton Solo.
Hari gini...., masih aja ada media yang menggembar-gemborkan isu klenik ke hadapan masyarakat. Pasca sejumlah stasiun TV mendapat teguran KPI karena menayangkan sinetron dan program berbau klenik, eh...malah media on-line yang mengakat isu ini.
Media adalah alat penyebaran informasi yang juga sekaligus alat pembelajaran. Inginkah praktisi media menyesaki kepala masyarakat Indonesia dengan persoalan klenik dan mistis? Atau sekedar mencari headline supaya situsnya banyak di-klik, demi meraup lebih besar lagi uang pengiklan?

BENARKAH KITA MEMBERIKAN YANG TERBAIK?

Saya termasuk ibu yang tak setuju, bayi kecil saya terlalu dini terstimulasi televisi. Bukan cuma televisi sih tapi juga DVD dan program-program audio visual lainnya. Alasan saya sederhana:Ingin anak saya bisa belajar bersosialisasi secara "tradisional" terlebih dulu baru mengenal media komunikasi lainnya. Nyatanya, banyak juga yang menilai saya ketinggalan jaman. Maklum, banyak produk dan program yang katanya bisa menstimulasi perkembangan otak bayi sejak dini.

Terserah mau pro atau kontra dengan pendapat saya, sebelum berkomentar baca dulu artikel yang saya ambil (dengan sedikit editing) dari KapanLagi.com ini:
Meski sudah banyak diciptakan acara khusus televisi dan rancangan film untuk bayi, tetap tak bisa mengubah pemikiran bahwa televisi bisa membawa dampak buruk bagi otak si kecil, menurut dokter ahli yang dimuat dalam majalah Neu-Isenburg.
Bayi belajar mengalami gangguan dari televisi, kata laporan ilmuwan yang mengacu kepada daya kerja otak yang merupakan penelitian Profesor Manfred Spitzer dari Ulm. Menurut Manfred Spitzer bayi tak dapat memproses rangkaian dari tampilan benda maupun suara dari televisi.
Spitzer mengatakan dalam satu penelitian di Amerika Serikat sekelompok bayi yang memiliki kisaran umur sembilan hingga 12 bulan dibacakan cerita dalam bahasa China sementara sekelompok bayi lainnya mendengarkan cerita yang sama dari sebuah televisi. Bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu dua bulan berselang dapat mengenali suara dalam bahasa China namun kelompok dua yang melulu hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di televisi tidak mempelajari apapun.

Menurut satu penelitian lainnya yang melibatkan 1000 keluarga yang memiliki bayi dengan kisaran usia delapan hingga 16 bulan yang secara berkala dibacakan cerita, maka anak-anak tersebut mengenali atau mengetahui jumlah kata 8 persen lebih banyak dari rata-rata.
Jumlah perbendaharaan kata anak-anak yang banyak melihat acara Baby TV atau DVD yang khusus diperuntukkan bagi bayi adalah 20 persen lebih rendah dari jumlah kata yang dimiliki anak-anak secara rata-rata. Sejumlah dokter spesialis yang dimuat dalam majalah kedokteran Jerman awal pekan ini secara tegas menyebutkan bahwa televisi secara mendasar tidak baik bagi otak bayi.

Saya percaya tiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Jadi, apa pilihan anda? :)

Thursday, January 03, 2008

SELAMAT TAHUN BARU
(KHUSUS WARGA JAKARTA)

Buat anda yang nggak ada kegiatan di malam tahun baru, barangkali menyaksikan program televisi yang sama dengan saya: Pesta Tahun Baru 2008 di Lapangan Monas, Jakarta Pusat. Keriaan yang menyedot pengunjung sekitar tiga juta orang dan dana miliaran rupiah (KOMPAS Rabu, 02 Januari 2008: Pesta Usai, Monas Rusak Jakarta dan Sekitarnya Aman) itu terasa agak mengganggu saya.

Bukan hanya karena pesta itu hadir ditengah bencana alam melanda sejumlah wilayah Indonesia, tetapi juga karena Pak Gubernur DKI Jakarta sambil asyik menyanyi bersama salah satu band yang laku dijual di Indonesia saat ini menyerukan: "Selamat tinggal tahun 2007 dan selamat datang tahun 2008. Mari kita bangun Jakarta untuk semua.

Aduh, Pak Gubernur....Malam itu kan anda tampil di Layar Kaca Stasiun TV nasional. Kok ya himbauannya cuma untuk Jakarta. Emang seluruh pemirsa pernah dan perlu ke Jakarta? Kalau tak salah, pihak Pemda DKI bak kebakaran jenggot pasca lebaran lalu untuk menghalau warga luar DKI yang mau mencari sesuap nasi dan seribu mimpi di kota (yang katanya) metropolitannya Indonesia. Benar nih, Jakarta untuk semua? Kalau DKI Jakarta diserbu pendatang, janji ya....jangan panik....Pernyataannya live on air loh...di stasiun TV nasional :)

," kata Fauzi Bowo. selain membahagiakan rakyat yang bisa bermalam tahun baru gratis (lantas besoknya tetap mikir gimana caranya dapat duit di ibukota) a yang diperkirakan menghabiskan dana miliaran rupiah itu membuat Taman Monas hancur.
Taman rusak dan menjadi kubangan lumpur. Kerusakan terlihat setelah ribuan pengunjung bubar.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang menemani warga Jakarta di Monas mengajak segenap masyarakat Ibu Kota merayakan Tahun Baru dengan damai serta berpesan agar kelestarian Taman Monas sebagai aset nasional dijaga. "Selamat tinggal tahun 2007 dan selamat datang tahun 2008. Mari kita bangun Jakarta untuk semua," kata Fauzi Bowo.

SEMUA BISA JADI "RADIO STAR"



Tertarik jadi bintang radio? Baca artikel yang saya ambil dari http://features.us.reuters.com/techlife/news/N27419626.htmlini:


Talk radio hosts need only a computer and phone

Thu, 27 Dec 2007

Photo



By Paul Thomasch

NEW YORK (Reuters Life!) - Anyone with dreams of being a talk radio star -- ranting about sports and politics, chatting with callers, sharing recipes or car-buying tips -- can play host on their own show, right on the Web.

BlogTalkRadio, Talkshoe and Skypecasts are among the Web sites that have become popular for would-be radio jocks, and all it takes is a computer and a telephone.

"You can create a show within five minutes and be on the air within 15 minutes," said Alan Levy, the CEO of BlogTalkRadio, a site he started shortly after his father fell ill with non-Hodgkins lymphoma in 2006.

At first, Levy created a blog for his father, allowing him to easily keep in touch with family and friends. Later, Levy decided he wanted something more than a blog.

"I wasn't feeling like it was a conversation -- it was all text." So he came up with the idea of creating broadcasts for bloggers, and BlogTalkRadio was born.

With BlogTalkRadio, hosts use a telephone and computer to create live, call-in shows. Unlimited participants can join, and the service is free because it's advertising-supported. After airing, the shows are archived and become available as podcasts for other listeners.

So far, nearly 46,000 shows have been created -- with subjects ranging from entertainment to politics to sports and lifestyle. Actor Brad Pitt, politician John Kerry, baseball player David Wright and author Jodi Picoult are among those who have been interviewed.

"Some shows are good, some aren't so hot," said Levy. "The cream rises to the top."

Around 350 shows are on the air each day, some hosted by established bloggers, like Ed Morrissey or Flylady. Others are from people who are just beginning to gain a strong following on the Web site.

"There's a whole network of budding stars," says Levy, who himself hosts a program.

DAILY SHOW

Shaun Daily is one such example. As a host of a radio show on BlogTalkRadio, Daily become involved in a campaign to save the CBS television show "Jericho," which had been canceled before the 2007-08 season.

Daily invited producers and stars from "Jericho" to his radio program, invited fans to call, and urged listeners to send nuts to CBS headquarters -- a reference to a line used by a character in the TV show.

At one point, Daily's broadcasts on BlogTalkRadio were attracting 10,000 listeners a night. CBS eventually relented, extended "Jericho" by 7 more episodes, and wrote a letter to fans urging them to "please stop sending us nuts."

Like BlogTalkRadio, Skypecasts are another option for aspiring radio hosts. Essentially, they are free programs that can host up to 100 people from anywhere in the world.

A host can control who speaks and eject people if they wish, just like a radio broadcaster. Skype then chooses the most interesting or popular broadcasts and displays them on the home page. Skype is a unit of eBay.

Talkshoe, another site, requires users to download software for its "Talkcasts." Those who want to listen are then directed to a "Live Now" page to see what shows are playing. They can also download recorded shows, or podcasts, from the site.

Otherwise, you can host a "Talkcast" using features like phone muting, chat muting, request-to-talk queuing, and recording from a Web-based dashboard. You choose the topic of your show, schedule it on the site, and, unlike traditional radio, can have listeners from anywhere tune in or participate.

"We have some extremely loyal users," said Mark Juliano, a senior vice president and founder. "The kind of service we are providing is something people were paying thousands of dollars for not too long ago."

Wednesday, January 02, 2008

(LAGI-LAGI) BAHAYA MENONTON TELEVISI
Artikel ini saya salin dari Majalah Mother & Baby Indonesia edisi Januari 2008:
"Apakah Anda membiasakan bayi atau batita Anda tertidur sambil menonton TV? Bila ya, maka Anda adalah salah satu dari banyak orangtua yang kelelahan sehingga tidak menyadari bahwa Anda telah menanamkan kebiasaan tidur yang tidak baik pada si kecil Anda. Ahli kesehatan di Inggris yang melakukan survei pola tidur anak menyatakan bahwa banyak orangtua yang tidak menyadari bila mereka sering membiarkan anaknya tertidur di depan TV, maka anak lebih sering terbangun di tengah malam. Jadi, kalau anda ingin bayi atau balita anda tidur tenang sampai pagi, matikan TV sebelum ia tertidur, allu tidurkan ia di tempat tidurnya."
Yuk, kita matikan TV sebelum tidur....Jangan-jangan bukan anak kita yang keberatan, tapi kita lah yang lebih berkeberatan :)

TANGGAPAN YANG CEPAT TANGGAP

20 November 2007 lalu, saya mem-posting tulisan mengenai keresahan saya tentang kutipan pernyataan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Fetty Fajriati Miftach yang dimuat KOMPAS 19 November 2007 berkaitan dengan aksi kekerasan di televisi. Tersirat bahwa KPI tak berwenang terhadap program televisi yang menayangkan acara kekerasan karena berkaitan dengan produk dan kebebasan pers yang tidak boleh dimatikan (baca: Kemana Harus Mengadu?). Selain menulis di blog ini, saya juga mengirimkan e-mail ke website KPI sehubungan hal yang sama.

Alhamdulillah, tak lama kemudian, Fetty Fajriati, mengirimkan tanggapan, langsung ke e-mail pribadi saya. Tujuannya, apalagi, kalau bukan klarifikasi atas dimuatnya kutipan wawancara tersebut. Dalam e-mail-nya, sang wakil ketua KPI ini kurang lebih menjelaskan bahwa wartawan yang mewawancarainya selama 15 menit itu hanya memuat keterangan dari KPI sebagai tempelan dankutipan tersebut ditempatkan ditempat yang tidak tepat.

Dalam klarifikasinya, dijelaskan bahwa saat diinterview pertanyaan yang diajukan adalah apakah program kriminal di televisi seperti buser, sergap danser..ser lainnya bisa dilarang? Jawaban Fetty adalah: Sepanjangitu produk pers, KPI tidak berwenang melarang ia bertumbuh di televisi kita. Karena itu berkaitan dengan freedom of press yang saat ini kita junjung tinggi. Tetapi KPI bisa berwenang untuk memberikan sangsi administratif dan pidana bila ia melanggar peraturan yang ditetapkan KPI dalam P3 SPS yaitu PedomanPerilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran. Bila ada adegan kekerasan, porno, dan cabul yang tidak tidak sesuai dengan isi berita, maka KPI berhakmemberi teguran. Bila terjadi lagi, ditegur lagi,sampai 3 kali. Bila tidak diindahkan juga setelah 3kali teguran, maka KPI berhak untuk meminta stasiun televisi menghentikan program itu, setelah KPIberunding dengan Dewan Pers. Tetapi sesuai dengan azas kebebasan pers, televisi yang bersangkutan bisa saja membuat program serupa dengan nama berbeda, sebagai pengganti dari programyang dilarang KPI itu, asal mau mengikuti P3 SPS KPI.

Senang juga, e-mail saya ditanggapi langsung secara pribadi dan profesional. Dalam balasan saya ke e-mail pribadinya, saya memberi ide agar KPI mengklarifikasi tulisan di KOMPAS tersebut. Sayang sampai sekarang e-mail saya tak berbalas, entah setuju atau tidak dengan pendapat saya, bisa karena sibuk, atau kesal dengan balasan saya yang bilang bahwa sebaiknya klarifikasi dilakukan supaya KPI tidak dibilang mandul.

Mudah-mudahan sebagai badan independen yang bebas dari campur tangan pemodal maupun kepentingan kekuasaan, para anggota KPI siap sedia dengan kritik pedas dari Warga Negara Indonesia yang notabene pemilik frekuensi sebagai ranah publik kita. Selamat Bekerja KPI!

Wednesday, December 26, 2007

KONTES MENYANYI VERSUS KONTES POPULARITAS



Sejumlah pendukung fanatik Mike di "Asian Idol" geram. Gara-gara Mike kalah di Asian Idol yang pertama yang disiarkan stasiun televisi RCTI. Dalam kontes yang diikuti perwakilan dari Filipina, Malaysia, Vietnam, India, Indonesia, dan Singapura ini, ternyata Hadi Mirza dari Singapura lah yang menjadi pemenangnya.

"Ini pasti gara-gara banyak orang Indonesia yang pilih Singapura deh buat pilihan keduanya!" "Ah...pada milih HAdi, soalnya ganteng sih". Itu beberapa komentar yang sempat saya dengar. Komentar lebih seru lagi dilontarkan saat KOMPAS mengeluarkan wawancara dengan pihak penyelenggara Asian Idol (yang notabene orang Indonesia) yang menjelaskan mengenai cara penghitungan suara melalui voting SMS. Sebab memang banyak orang mempertanyakan, kok bisa sih Mike dengan suara emasnya yang dipuja-puji sejumlah juri kalah melalui voting? Padahal penduduk Indonesia kan banyak.

Ini adalah kutipan cara penghitungan hasil voting yang saya peroleh dari wikipedia dengan keyword Asian Idol:

"There are several differences in voting and tabulation between Asian Idol and other Idol shows. Unlike the latter wherein the viewers get to vote for one contestant, the voting procedure for Asian Idol requires viewers to send SMS votes for two favorite Idols, thus allowing contestants to receive votes aside from their respective countries.[7][22]

As consideration on population size among the participating countries, tabulation of votes are done through an "Equal and Even Cumulative Method", wherein the total votes of each country are converted into percentages.[22][23]"

Pusing? Sudahlah...tak usah dipikirkan cara penghitungannya. Intinya, menghitung hasil voting sms Asian Idol ternyata tak semudah yang kita bayangkan.

Banyak pemirsa yang lupa: Asian Idol adalah sebuah tayangan televisi yang merupakan produk "jualan". Jadi kalau berulang kali Simon Cowell, sang juri paling berkarakter di American Idol, berulang kali berujar: "This is a singing contest, not a popularity contest", maka kali ini saya terpaksa tak sependapat dengan Cowell. Saya sangat percaya: Program televisi adalah produk yang dijual dalam kemasan tertentu sesuai keinginan dan kebutuhan pembuat programnya. Peenonton hanyalah pihak pasif yang menerima apa yang disaksikannya. Walau sekarang pasifnya penonton kerap berusaha diselubungi dengan kemasan yang seakan membuat pemirsa menjadi berperan aktif. Misalnya melalui pemilihan pemenang program Idol melalui voting SMS.

Toh, nyatanya penonton hanyalah pihak pasif yang masihbertanya-tanya: "Kok Hadi sih yang menang?"





Tuesday, November 27, 2007


KABAR (Mudah-Mudahan) GEMBIRA

Kemarin saya mendengar iklan radio mengenai citizen journalism Harian Republika. Intinya, harian ini mengajak pembacanya mengirimkan materi berita, bisa foto ataupun tulisan untuk dipublikasikan melalui Harian Republika.


Mengutip tulisan di republika.co.id (Genre Baru Bernama Citizen Journalism, Rabu, 07 Nopember 2007) , Nicholas Lemann, profesor di Columbia University Graduate School of Journalism, mencatat: Kelahiran jurnalisme publik (citizen journalism) dimulai melalui gerakan pada Pemilu Amerika Serikat 1988. Saat itu publik kehilangan kepercayaan terhadap media mainstream seputar pemilihan presiden AS. Di Asia, Oh May News mengalami sukses luar biasa juga dipicu oleh pemilihan presiden Korsel.


Artikel dalam Online Journalism Review (2003), oleh J. D. Lasica (http://en.wikipedia.org/wiki/Citizen_journalism) menerangkan ada berbagai bentuk citizen journalisme: 1) Partisipasi Audience, misal: komentar atas berita yang dipublikasi sebuah media, suara anda di Metro TV, Surat Pembaca di Kompas, kolom comment pada blog adalah beberapa diantaranya), 2) Berita dan informasi independen dari website, 3) Full-fledged participatory news sites misal: OhmyNews, 4) Collaborative and contributory media sites, misal: Slashdot, Kuro5hin, 5) Jenis lain dari thin media, seperti mailing lists atau email newsletters, dan 6) Personal broadcasting sites, misal: video broadcast sites.


Artikel di republika.co.id (Genre Baru Bernama Citizen Journalism, Rabu, 07 Nopember 2007) menggambarkan Citizen Journalism sebagai bentuk perlawanan. Baik terhadap hegemoni dalam merumuskan dan memaknai kebenaran, dominasi informasi oleh elite masyarakat, sampai perlawanan terhadap tatanan peradaban yang makin impersonal. Lebih lanjut artikel tersebut memuji citizen journalism sebagai penemuan kembali kemanusiaan, persahabatan, dan kekeluargaan.

Itu gambaran sempurnanyal. Nyatanya, penerapan Citizen Journalism di Harian Republika hasil reportase pembaca hanya dipublikasikan pada edisi ahad setelah diseleksi redaksi. Untuk Suara Anda di Metro TV hanya segelintir suara yang bisa tersiarkan. Coba kirim Surat Pembaca di KOMPAS, mudah-mudahan bisa termuat. Bahkan di blog pun jika sang administrator tak suka dengan komentar kita, komentar tersebut bisa di hadang ter-up load. Banyak alasan mengapa tetap ada praktek hadang-menghadang dalam Citizen Journalism, diantaranya keterbatasan waktu siar atau halaman untuk mencetak, faktor kepentingan untuk publik, sampai faktor muatan informasi atau berita mana yang lebih menguntungkan jika dipublikasikan oleh sang administrator (atau istilah-istilah lain dari si "penghadang" informasi dari publik).

Walau demikian, semangat ber-citizen journalism patut terus disosialisasikan Daripada terus menerus menerima muatan media yang seluruhnya dipasok sekelompok pemilik modal dan atau kekuasaan. Namanya juga hidup, mana ada yang sempurna....

Friday, November 23, 2007

BAK KERBAU DICUCUK HIDUNG
Kemarin juru masak ibu saya berniat mempraktekkan resep baru yang didapatnya dari program masak-memasak di salah stasiun televisi swasta (Sayang saya lupa stasiun televisi dan nama programnya). Sederhana resepnya, terong goreng tepung. Masalahnya ia berkeras mau menggunakan sebuah tepung serbaguna bermerk tertentu yang identik dengan salah satu merek bumbu penyedap makanan (yang tentunya ber-MSG). Heran juga ibu saya, kenapa spesifik produk itui? Padahal juru masak tidak pernah menggunakan produk tersebut. "Soalnya, di resepnya pakai tepung itu....", jelas juru masak ibu saya dengan polos.
Oalah....., tentunya sang juru masak tidak paham kenapa sampai di resep tersebut penting disebutkan merek tepung serbaguna tertentu.
Di jaman serba kejar uang seperti sekarang sejumlah media berusaha "menjual" space iklannya lebih kreatif dan yang punya duit (baca: pengiklan) pingin produk atau jasanya makin lancar terjual. Salah satu taktik adalah membuat program atau tulisan yang seakan tidak disusupi muatan iklan. Padahal sebenarnya media dan pengiklan berkongsi memasukan muatan informasi produk atau jasa sang pengiklan secara halus (soft sell). Contohnya ya...program masak memasak yang tiap hari disaksikan hampir semua perempuan yang tinggal di rumah ibu saya.
Namanya boleh soft sell, tapi dampaknya bisa lebih besar daripada hard sell. Ketimbang memasang spot iklan dan bersaing dengan sekian banyak produk atau jasa sejenis untuk bisa diingat oleh target konsumen, mending menciptakan program (istilah keren media penyiarannya: blocking time) yang disusupi pesan-pesan untuk menggunakan produk atau jasa yang hendak disosialisasikan. Bayangkan berapa banyak yang secara tak sadar mengikuti resep dan menggunakan tepung serbaguna bermerk tertentu di program yang disaksikan juru masak ibu saya itu.
Itu baru satu produk di satu program. Seorang senior saya di masa jayanya sebagai penyiar radio, dalam empat jam siaran membacakan iklan baca (adlibs, bahasa penyiarannya) minimal empat buah. Di masa itu, apa yang "diceritakan" senior saya ini, sebagian besar "ditelan bulat-bulat" pendengar setianya. Bahkan saya sempet jadi saksi telinga (karena melalui radio) sekedar bercerita baru makan martabak yang enak banget, pendengar langsung telepon ke studio khusus menanyakan di mana tuh martabak yang uenak tenan-nya dijual? Padahal si tukang martabak boro-boro pasang iklan. Sadar lagi diomongin aja nggak.
Sampai detik ini, saya masih sangat percaya media punya dampak besar terhadap isi kepala audience-nya. Apalagi untuk kasus negara dengan populasi manusia cerdas yang masih menyedihkan seperti Indonesia.
Jangan sampai kita jadi bak kerbau dicucuk hidungnya....

Tuesday, November 20, 2007

Kemana Harus Mengadu?



KOMPAS 19 November 2007 di headline-nya "Dari Lingkungan yang Salah Mereka Meniru...." memuat kutipan pernyataan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Fetty Fajriati Miftach berkaitan dengan aksi kekerasan di televisi. " KPI tidak memiliki wewenang terhadap program televisi yang menayangkan acara kekerasan karena berkaitan dengan produk dan kebebasan pers yang tidak boleh dimatikan", demikian menurut Fetty. "Namun, bila tayangan tersebut mempertontonkan gambar yang tidak layak dilihat, sadis, atau porno, kami baru bereaksi dan menegur stasiun televisi yang menayangkannya dan juga Dewan Pers", lanjutnya.

Aneh, kok pernyataan pertama dan kedua sepertinya bertentangan? Pernyataan pertama menyatakan bahwa KPI tidak punya wewenang atas acara kekerasan karena berhubungan dengan kebebasan pers. Di pernyataan kedua narasumber yang sama menyatakan kalau mempertontonkan gambar yang tidak layak dilihat, sadis, atau porno, KPI bisa bereaksi.

Padahal, undang-undang penyiaran tahun 2002 pasal 35 (5b) menjelaskan bahwa: Isi siaran dilarang menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkoba, dan obat terlarang.

Mudah-mudahan sih cuma saya yang salah memahami pesan yang disampaikan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ini saja. Sebab jika benar KPI tidak berwenang atas acara yang bermuatan kekerasan demi dalih kebebasan pers, lantas harus kemana lagi publik (sebagai PEMILIK FREKUENSI) mengadu?

Wednesday, November 14, 2007

TV: SAHABAT ATAU MUSUH
Koran Tempo hari ini memuat hasil penelitian University of California, Rady's Children Hospital, dan University of South Alabama di Amerika Serikat. Kesimpulannya: Menonton televisi tak hanya berhubungan dengan obesitas pada anak, tapi juga berisiko mencetuskan darah tinggi. Katanya, anak yang banyak menonton televisi terlalu banyak duduk, diam, kurang bergerak, sehingga terbuka peluang mengalami kegemukan, termasuk darah tinggi.
Sementara itu, di Majalah Mother & Baby Indonesia edisi Bulan ini, ada kutipan hasil penelitian yang kurang lebih menyimpulkan bahwa dengan menonton televisi, perkembangan anak akan lebih maksimal. Memang di artikel tersebut dijelaskan, bahwa anak harus diajak berkomunikasi saat sedang menonton televisi.
Sama seperti memilih sahabat, setiap orang punya pertimbangan masing-masing. Begitupula dengan pertimbangan anda dalam menetapkan televisi. Sahabat atau musuh keluarga?

Thursday, November 08, 2007


SEMUA UNTUK JAKARTA*


Kalau ada yang sedang membuat analisa isi media di Indonesia, saya rasa topik yang sedang in adalah : Kemacetan Jakarta. Memang benar, kemacetan di seputaran Jakarta makin menggila. Benar, bahwa banyak warga yang terhambat aktivitasnya. Benar, kemacetan Jakarta menyebabkan kerugian materiil dan imateriil yang besar.

Lantas, mana serampangannya? Bencana di Gunung Kelud, Semeru, Anak Krakatau bisa dan sudah menimbulkan korban yang juga warga negara Indonesia. Entah ada yang peduli atau tidak. Operasi yustisi di (lagi-lagi) DKI Jakarta menyebabkan sejumlah orang yang hanya berusaha mencari setengah (saking sedikitnya keberuntungan yang bisa diperoleh) sendok nasi untuk keluarganya dipulangkan ke desanya dan menjadi pengangguran (padahal ada yang katanya sudah bekerja bertahun-tahun di ibukota dan nggak punya administrasi kependudukan yang lengkap karena nggak tahu bahwa untuk kerja butuh syarat administrasi kependudukan -suatu bukti bahwa informasi adalah barang mahal di negara ini). Belum lagi isu lain, seperti pejabat pemerintah yang mendadak harta kekayaannya bertambah secara drastis.

Tapi siapa mau peduli? Jakarta kan pusat pembangunan (Loh, katanya sudah ada otonomi daerah?). Jakarta kan kota tersibuk di Indonesia. Jakarta kan pusat pemerintahan. Ah, mudah-mudahan cuma asumsi saya bahwa isi media masih didominasi "Ke-jakarta-an". Kalau begitu, jangan main angkut pulang para pendatang dong, lah wong yang mereka tahu cuma tentang Jakarta melulu.

* Thx buat munchkikins buat ide topik ini :)

Friday, October 12, 2007

Sahur Mubazir
Sahur terakhir ramadhan kali ini, saya menonton tayangan sahur di salah satu televisi swasta. Saatnya Kita Sahur, itu kalau tidak salah nama programnya. Tidak ada yang baru. Lawakan standar yang diramu kuis, kelihatannya masih jadi pilihan stasiun tersebut. Yang menyebalkan adalah di layar kaca, saya melihat para pemain di acara tersebut saling lempar makanan (yang berupa kue atau roti). Becanda sih maksudnya. Tapi kok tega sih buang-buang makanan, saat harga bahan pokok melambung, banyak orang tidak bisa berbelanja baju baru karena harga yang melonjak, dan pemulung dan pengemis membanjiri ibukota.
Acara tersebut memang ditayangkan secara live, tapi saya percaya tidak ada yang namanya spontan di media. Semua sudah dibuat dengan standar masing-masing media yang tidak boleh terlepas dari dasar hukum di mana media tersebut disebarluaskan. Kalaupun pihak media mau berdalih bahwa adegan lempar-lemparan makanan tersebut dilakukan spontan saja, manajemen yang bertanggung jawab atas apa yang disebarluaskan medianya.
Ingat kejadian Janet Jackson "pamer payudara" di super bowl beberapa tahun lalu? FCC di Amerika Serikat mengeluarkan teguran keras kepada jaringan televisi yang menjadi pemegang lisensi penyiaran super bowl kala itu. Setelah kasus tersebut bahkan stasiun yang bersangkutan harus menyiarkan dengan penundaan beberapa detik siaran live demi "keamanan" tayangan yang disiarkannya karena super bowl ditayangkan kala prime time.
Pihak watchdog di Indonesia masih kurang galak nih kayaknya!

...4nd CANDIDATES
Jangan diperbaiki ya judul di atas! Soalnya itu adalah potongan sebuah headline di sebuah majalah ABG perempuan edisi Oktober 2007 (mudah-mudahan saya benar menebak target pembaca majalah tersebut). Mudah-mudahan kesalahan penulisan headline tersebut (semest inya tertulis 4th) hanyalah masalah "kelupaan" mengedit dari redaksi majalah yang bersangkutan, bukan karena ketidak tahuan mengenai penggunaan bahasa asing yang tepat.
Padahal, kalau memang mau gampang, kenapa juga ngga ditulis dalam Bahasa Indonesia. Kan sirkulasinya juga cuma di Indonesia, bagi pembaca yang bisa berbahasa Indonesia. Selain malu ketahuan ngga bisa berbahasa Inggris dengan baik, hitung-hitung menggalakkan penggunaan Bahasa Indonesia melalui medianya.
Sebetulnya bukan cuma majalah tersebut yang sembarang menggunakan bahasa asing, karena sejumlah media lain pun memilih menggunakan bahasa asing ketimbang bahasa ibunya. Mau going global atau menunjukkan positioning medianya sebagai media kelas atas adalah beberapa diantara berbagai alasan yang dikemukakan para pekerja media. Lebih sadis lagi tuduhan teman saya, yang sempat menjabat general manager di sebuah stasiun radio swasta, "Bahasa Indonesia itu kosa katanya sedikit sih." Teman saya ini pasti tidak tahu kalau Bahasa Betawi - yang turut memperkaya kosa kata Bahasa Indonesia - sampai punya kata tersendiri untuk menggambarkan kesalahan mengancingkan baju sehingga batas bawah kemeja tidak rata.
Coba simak sejumlah stasiun radio atau program televisi yang diperuntukkan bagi kalangan menengah atas, sebagian besar akan menyisipkan bahasa asing di antara Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai alat penyampaian pesan resminya. Sering kita dengar sejumlah artis atau non artis menyebut kata ENTERTAIN bukan entertainment. Misalnya, "Saya kan terjun dalam bidang entertain...." (baca: entertainment, maksudnya),. Atau yang sempat heboh beberapa tahun lalu adalah saat seorang selebritas mengatakan (di depan kamera & disiarkan melalui televisi nasional), "Who do you think he are?"
Seorang profesor bidang Ilmu Budaya pernah bercerita bahwa sebenarnya sudah banyak buku atau kamus yang dikeluarkan secara resmi untuk membahasa Indonesiakan sejumlah istilah asing tapi pengaplikasiannya masih jauh dari memuaskan. Sewaktu sang profesor bercerita, sebetulnya saya ingin menjawab, "Jangan-jangan pihak pembuat penyesuaian istilah pun kurang gigih mempublikasikan keberadaan buku-buku atau kamus-kamus tersebut." Tapi sebagai praktisi media saya lalu berpikir lagi, "Jangan-jangan orang-orang media seperti saya inilah yang , malas membaca untuk tahu mengenai informasi tersebut."
Pekerja media kerap lupa, salah satu fungsi media adalah: mendidik (to educate). Kalau medianya masih sembarangan berbahasa, bisa-bisa masyarakatnya pun akan sembarangan berbahasa. Beberapa tahun lalu mahasiswa saya mempertanyakan, kenapa majalah-majalah (dan juga media lainnya) yang dibacanya gemar menyisipkan kata-kata asing yang tidak penting dalam kalimat berbahasa Indonesia, apakah hanya demi gaya-gayaan? Ayo...siapa pekerja media yang siap menjawab pertanyaan mahasiswa saya ini dari hati nurani terdalam? ;) Daripada salah jawab, gimana kalau kita sama-sama bikin kampanye pengenalan Bahasa Indonesia yang baik bagi masyarakat?

Wednesday, October 10, 2007

Lanjutkan Perjuangan!
(Mengenang 40 Hari Wafatnya Zainal A Suryokusumo)
Hampir dua minggu setelah almarhum meninggal dunia (akibat kanker kelenjar getah bening yang baru terdiagnosa dua bulan sebelumnya), seorang pengajar ilmu komunikasi bilang: "(Semua) Orang penyiaran pasti kenal Pak Zainal", begitu ia menyadari nama belakang saya Suryokusumo. Aneh, setelah ayah, guru, sahabat, & lawan debat saya meninggal, saya seperti baru tahu bahwa seorang Zainal A Suryokusumo (atau biasa disapa Bang Zen, Babe, Bung Daktur) adalah big thing bagi banyak orang.
"Ngapain kamu kerja di radio?", itu kalimat almarhum waktu dengan bangganya saya bercerita tentang diterimanya saya sebagai penyiar di sebuah stasiun radio swasta papan atas. Sekitar sembilan tahun kemudian, saat terbaring sakit di ICU RS MMC, almarhum menuliskan di selembar kertas (karena tidak bisa bicara akibat harus menggunakan alat bantu pernapasan): "Jangan kecil hati", lalu dengan tangannya yang masih sulit berkoordinasi dengan keinginannya berkomunikasi, almarhum menulis lagi: "Kita sama-sama siaran".
Sebenarnya sampai almarhum wafat 30 Agustus 2007, saya belum mengerti apa maksud tulisan-tulisan pendeknya. Interpretasi pesan sangat tergantung dari penerimanya. Jadi mudah-mudahan sah saja kalau saya menginterpretasikan tulisan-tulisan pendek almarhum di ICU tadi sebagai penyemangat bagi saya, bahwa bekerja di radio tidaklah seburuk yang pernah disampaikannya kepada saya.
Uniknya, walau anak-anaknya selalu berusaha dijauhkan dari kemungkinan bekerja di dunia penyiaran, nyatanya 2 dari 3 anaknya pernah & masih bekerja di dunia yang dibenci sekaligus dicintainya itu. Barangkali almarhum mau menyampaikan pada kami, " Biar Mama saja (begitu saya memanggilnya) yang berurusan dengan dunia penyiaran indonesia yang nggak pernah jelas ini".
Usahanya menghalangi putri-putrinya bekerja di dunia penyiaran tidak menghalangi semangatnya membenahi dunia penyiaran dan kebebasan perolehan informasi bagi semua. Tak heran beberapa minggu menjelang sakit pun almarhum masih sibuk bertugas keluar kota. Kesibukan yang semasa kecil tidak pernah saya mengerti, "Kenapa Mama sibuk tapi nggak pernah bisa sebanyak uang & sengetop orang lain?"
Semasa hidupnya, rasanya banyak yang sudah saya pelajari dari almarhum. Sepeninggalannya, saya justru merasa terlalu banyak yang belum saya pelajari darinya. Sampai hari-hari terakhir hidupnya pun, saya masih tidak tahu dari mana harus memulai mengumpulkan pemikiran-pemikirannya yang tersebar di belasan note book, sebuah laptop yang rusak LCD-nya, ratusan karya tulis, dan sebuah flash disk.
Almarhum masih sempat berpesan ke sejumlah sahabatnya untuk melanjutkan perjuangnya yang pernah dimulainya. " Saya bekerja untuk cucu & cicit saya", demikian salah satu kalimat almarhum yang selalu saya ingat, saat berdebat tentang RUU Penyiaran (yang sekarang menjadi UU Penyiaran) dengan seorang lawan bicaranya melalui telepon genggam.
Banyak ilmu almarhum yang belum saya pelajari untuk ketahui. Saya hanya tahu bahwa saya bersyukur menjadi putrinya.
LIBUR T'LAH TIBA

Libur lebaran sudah mulai. Mulai juga sebagian orang tua dipaksa memutar otak supaya anaknya bisa menikmati liburannya secara positif. Yang paling murah sih, biarkan anak anda di rumah sambil ditemani "sahabat" manusia jaman sekarang: televisi.

Murah bukan berarti bebas was-was. Coba anda perhatikan beberapa sinetron yang sedang naik tayang. Ada yang tokoh utamanya kalau kehilangan kesabaran berubah jadi seperti monyet. Ada yang tokoh utamanya masih pakai seragam sekolah sudah duduk dempet-dempetan sama lawan jenisnya. Ada juga yang ceritanya mengaku diangkat berdasarkan nilai-nilai agama tertentu, tapi kalau benar-benar kita simak....kok malah kayak film horor. Ada setannya lah, mahluk jadi-jadian lah, dan mahluk-mahluk irasional lainnya.

Alhamdulillah jika anda mampu menghadirkan fasilitas televisi berlangganan bagi buah hati. Acaranya jauh lebih mending. Eits, nanti dulu! Chanel untuk televisi berlangganan yang sengaja diperuntukkan bagi kalangan terbatas, tentunya juga harus kita konsumsi dengan bijak. kalau anak kita yang masih di bawah umur nonton chanel yang bukan untuk usianya, efek sampingnya ditanggung orangtua & si anak loh! Sebab televisi berlangganan kan datang ke hadapan kita atas permintaan pribadi. Jadi efek sampingnya, ya ditanggung sendiri juga dong. Nggak heran sejumlah televisi berlangganan sekarang menjual fasilitas parental lock, demi perasaan lebih aman bagi orang tua membiarkan anaknya menonton televisi sampai sepuasnya. Padahal kalau sudah di lock pun, apa sehat tuh nonton televisi seharian?

Ayo.....jadinya mau ngapain nih libur lebarannya? ;)