Thursday, April 03, 2008

KOK MARAH?

Akses terhadap situs YouTube terancam diblokir bila dalam dua hari tidak membuang Fitna dari content mereka. Aksi pemblokiran akan dilakukan oleh ISP se-Indonesia dengan koordinasi Depkominfo. Demikian kata Menkominfo M. Nuh (Detik.com, Selasa, 1/4/1008)."Menurut M. Nuh surat permintaan Pemerintah RI terhadap pengelola YouTube telah dilayangkan pagi ini.
Waduh, baru beberapa hari Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) diberlakukan sudah ada tindakan yang menurut saya berlebihan. Terus terang, saya belum nonton Fitna & sempet jengkel waktu dengar kabar beredarnya film ini.
Tapi, mendengar penjelasan Cak Nun di sebuah interview radio, mendadak saya malu. Cak Nun kurang lebih bilang, kalau Rasulullah menonton film itu, pasti Rasulullah akan tersenyum. Ngakunya Muslim modern yang berpikiran terbuka dan bangga Indonesia mulai latihan berdemokrasi. Lantas kenapa marah ada orang yang berpendapat berbeda?
NGERI JUGA JADI WARTAWAN


TEMPO Interaktif ( Kamis, 3 April 2008) melaporkan Aliansi Jurnalis Independen mendesak pihak kepolisian mengusut pelaku penganiayaan terhadap wartawan TV One. Penganiayaan dialami oleh dua orang wartawan TV One, Aditya dan Eko Subiyakto, ketika hendak meliput di kawasan pabrik Jababeka, Cikarang, beberapa hari lalu. Keduanya dianiaya petugas berseragam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Sumber yang sama menjelaskan, laporan yang diterima AJI mencatat sedikitnya 12 kasus serupa terjadi pada 2007.

Sayang di laporan yang saya "klik" judulnya di tempointeraktif tidak dibeberkan bagaimana penjelasan dari pihak petugas yang menganiaya para wartawan. Tanpa bermaksud membela tindak kekerasan yang dilakukan, beberapa kali saya sempat mengamati tindakan wartawan yang juga (menurut saya) mengganggu kenyamanan narasumber.

Contoh sederhana misalnya, saat kondisi berduka sejumlah wartawan tetap merangsek ke keluarga seorang selebriti yang meninggal dunia (nggak tahu juga sih pihak keluarga keberatan atau nggak. Tapi kalau saya yang jadi keluarganya pasti wartawannya sudah saya usir dengan tidak terhormat), belum lagi penayangan gambar jenazah yang, aduh....rasanya ngga layak dipertontonkan.

Saya memang bukan wartawan. Saya juga bukan orang yang layak dikejar-kejar wartawan jadi narasumber. Sesungguhnya saya tak tahu bagaimana perasaan para narasumber yang dikejar-kejar wartawan. Mungkin saya berempati berlebihan terhadap para narasumber yang ingin memiliki privasi, atau setidaknya ingin menyiapkan kata-kata untuk diungkapkan di depan media.

Seorang aktivis dan wartawan media penyiaran senior pernah bilang: "Semua profesi pasti berisiko. Termasuk juga menjadi wartawan. Banyak wartawan menjadi tawanan perang, bahkan sampai meninggal dalam kondisi tak layak. Itulah resiko profesi."
Selamat berjuang teman-teman wartawan.Mudah-mudahan kalian ditunjang dengan asuransi yang memadai.

Wednesday, February 27, 2008

PANIK!
Panik! Kelihatannya itu satu kata yang tepat mendeskripsikan kondisi pekerja media Indonesia waktu mengetahui Mantan Presiden Kedua RI, Jendral Besar H.M. Soeharto meninggal dunia pada 27 Januari 2008 lalu .

Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap melalui layar kaca . Barangkali media jenis lain pun sama paniknya, cuma kebetulan saya hari itu hanya menyimak televisi :) Jadi pekerja televisi sajalah yang saya tangkap kepanikannya.

Misalnya, ada stasiun televisi swasta yang reporternya berdiri di depan sebuah ambulans. Lantas sang reporter melaporkan (kurang lebih), " Inilah ambulans yang akan digunakan mengangkut jenazah mantan presiden kedua RI...." Eh, tahunya mendadak ambulans tersebut bergerak dan tertangkap oleh kamera bahwa ambulans itu adalah ambulans kosong.

Belum lagi reporter stasiun televisi swasta lainnya, salah menyebut nama sejumlah pelayat yang datang ke RSPP. Atau salah seorang news anchor di sebuah stasiun televisi swasta yang dengan entengnya memotong laporan langsung reporter yang bertugas karena disangka rombongan pembawa jenazah sudah datang. Lantas langsung diralat begitu terlihat di layar kaca bahwa yang datang bukanlah rombongan pembawa jenazah Pak Harto.

Banyak pula reporter atau news anchor yang menarik asumsi. Misalnya, ada yang melaporkan: "Kelihatannya jenazah akan disemayamkan di Cendana, untuk kemudian diterbangkan ke solo. Kemungkinan akan disemayamkan dulu di Ndalem Kalitan...."

Beberapa contoh di atas memang tidak berakibat fatal. Hanya saja cukup mengganggu dan sekaligus membuktikan media kita sepertinya tak punya standar operasional pelaporan berita yang ajeg. Di sisi lain, memang pemerintah RI pun tak punya standar operasional pemakaman mantan presiden seperti di beberapa negara lain. Sehingga run down acara pun sulit tertebak.

Tapi, bukankah pekerjaan media adalah "mencari dan melaporkan" berita sehingga publik bisa memperoleh informasi? Sehingga ketidaksiapan mestinya menjadi kata yang haram bagi pekerja dan institusi media. Jika media tak siap memberitakan sesuatu, terus publik mau tahu informasi dari mana dong?

Wednesday, February 13, 2008

Waktu ku Kecil


"Waktu ku kecil hidupku amatlah senang,
Senang dipangku dipangku dipeluknya,
Serta dicium dicium dinamakan,
Namanya kesayangan"


Masih ingat lirik lagu di atas? Judulnya sampai sekarang saya nggak tahu pasti sebetulnya, tapi lirik tersebut berulang kali terngiang di kepala saya setelah menyaksikan acara Idola Cilik Seleb di RCTI Minggu 10 Febriati 2008 lalu.


Awalnya, terhibur juga dengan penampilan beberapa peserta anak-anak (yang dikategorikan selebriti oleh pihak pembuat program) yang berani tampil di atas panggung. Walaupun tidak semua pesertanya bisa menyanyi.

Sampailah pada giliran salah satu peserta yang tampil membawakan lagu dangdut. Bukan masalah lagu dangdutnya, melainkan karena si peserta (Kesha, namanya) menyanyikan lagu dangdut dengan gaya orang dewasa. Maksud saya, anak yang rasanya belum akil balik ini, menyanyikan lagu dangdut dengan menggoyang-goyangkan pinggul dan dadanya, seperti layaknya penyanyi dangdut dewasa. Tidak berhenti di situ kekagetan saya, sebab ketika diinterview oleh Oki Lukman (pembawa acara) setelah bernyanyi Kesha mengakui bahwa pemilihan lagu dangdut adalah atas saran dari Bunda-nya (entah siapa yang dimaksud dengan Bunda di sini, ibunya atau orang dewasa lain yang disapanya dengan bunda). "Wah....jangan-jangan, koreografi egal-egol cara penyanyi dangdut dewasa pun disarankan oleh sang Bunda", batin saya.

Kontestan lain, walau tak muncul dengan koreografi egal-egol, juga membuat saya dan penonton lain yang bmenyaksikan program tersebut di rumah Nenek saya, berkomentar: " Emang nggak ada lagu anak-anak yang bisa dinyanyiin, ya?" Komentar muncul, karena seluruh peserta menyanyikan lagu berlirik dewasa. Satu-satunya yang membawakan lagu anak-anak pada episode tersebut (sepanjang pengelihatan dan pendengaran saya) adalah Matta Band sebagai bintang tamu.

Lebih menyedihkan lagi karena, setiap selesai kontestan menyanyikan lagu, lantas pembawa acara mengundang pemirsa (yang mestinya berusia anak-anak, karena ini kan program anak-anak) mengirim SMS untuk mendukung idola favoritnya ke nomor sms premium. Bukan cuma itu, ada hadiah 1,5 juta rupiah pula untuk pengirim sms yang beruntung. Luar biasa! kecil-kecil sudah diiming-imingi hadiah dengan cara begitu mudah, tanpa kerja keras.

Waktu saya kecil, mimpi saya adalah suatu hari Pak Tino Sidin akan menampilkan gambar yang saya kirim (walau nggak pernah juga saya kirim) di layar kaca. Waktu kecil, bangga rasanya melihat kakak saya muncul di acara Taman Indria asuhan Bu Kasur dengan mengenakan baju kurung dan tanduk khas pakaian Minangkabau di kepalanya. Waktu saya kecil, ingin rasanya bisa main piano seperti Bu Meinar di Acara Ayo Menyanyi (Bener nggak nih nama acaranya, ya?).

Mimpi memang akan selalu berkembang sesuai perkembangan zaman. Anak saya mungkin tak akan puas hanya melihat gambarnya sekilas saja diekspose di televisi seperti cara Pak Tino dulu. Anak jaman sekarang barangkali sulit disenangkan hanya dengan dipangku dan dipeluk seperti lirik lagu di awal tulisan ini. Saat kanak-kanak mimpi kita adalah ingin cepat besar. Saat kita dewasa, tak jarang kita mempertanyakan: Mengapa masa kecil kita cepat berlalu. Sebagai orang dewasa...tegakah kita membiarkan anak-anak menjadi dewasa sebegitu cepatnya?

Thursday, January 31, 2008

MASIH ADAKAH TEMPAT BAGI AIR PERSONALITY?



Sekitar sebulan lalu, saya menyaksikan program berita hiburan (tak tega rasanya menyebut program-program yang isisnya informasi selebriti ini sebagai infotainment) SILET di RCTI. Seperti biasa isinya ya...sama dengan program sejenis lainnya, tak jauh dari kehidupan para selebriti Indonesia yang diulik permukaannya saja.

Menjelang akhir program, diinformasikan bahwa dibuka kesempatan menjadi pembawa acara SILET. Salah satu persyaratannya adalah: BISA MEMBAWAKAN ACARA SEPERTI FENNY ROSE &....( aduh....maaf mbak yang satunya saya lupa namanya). Menyedihkan, ketika industri pertelevisian Indonesia (katanya) semakin maju, kok justru tak ada tempat bagi pribadi yang unik sebagai pembawa acara?

Padahal seorang presenter atau penyiar yang baik mestinya memiliki air personality. Bahasa mudahnya, seorang presenter/penyiar HARUS memiliki karakter pribadi yang unik dan berbeda dengan rekan sejawatnya. Saat Larry King atau Oprah Winfrey pensiun, tak ada yang bisa menggantikan mereka sebagai Oprah atau King. Broadcaster lain bisa sesukses atau bahkan jauh lebih sukses mereka, tetapi dengan keunikan kepribadian sendiri.

Beberapa tahun lalu, sebuah stasiun radio swasta di Jakarta mengganti penyiar program siaran paginya. Pasangan penyiar pengganti dihujat habis-habisan oleh pendengar. Mereka merindukan penyiar yang lama. Bukan karena penyiar lama lebih baik daripada yang baru. Melainkan karena yang baru dan yang lama memiliki karakter berbeda. Bulan demi bulan berlalu, pendengar yang protes pun mereda dan muncullah pendengar-pendengar loyal lain. Intinya, penyiar/presenter dengan air personality, adalah mereka yang akan dinanti dan dirindukan audience karena berbeda dengan personality lain.

Yah...kita nantikan muka presenter SILET yang baru dengan karakter yang masih seragam. Mudah-mudahan kali ini saya bisa ingat namanya



SMS SEJAK DINI




Hampir setiap pagi saya menyaksikan Kartun Serial "Avatar" di Global TV & hampir setiap hari juga saya "terpaksa" menyaksikan iklan-iklan dalam jeda program tersebut yang rasanya...tidak tepat bagi anak-anak (yang merupakan target audience program ini?). Hampir seluruh slot iklan berisi iklan makanan ringan (yang saya kira berkadar gula & karbohidrat tinggi).

Eh
, tapi itu masih mending sih....dibanding sebagian slot iklan lain yang diisi dengan iklan-iklan sms premium dengan beragamlayanan. Mulai dari SMS chat date ke 9554, Ramalan ke 9200, SMS LUCU (isinya katanya sih humor-humor segar) ke 9200, dan satu lagi SMS ramalan ke nomor yang sayang sekali saya lupa.

Menyedihkan, selain anak-anak penggemar serial Avatar berkemungkinan besar menjadi konsumen makanan kurang (kalau nggak mau disebut makanan yang sama sekali) tak sehat. Mereka juga disosialisasikan sejak dini dengan kebiasaan ber-sms premium yang gunanya???? Ah...siapa juga yang tau kegunan pastinya?

Monday, January 14, 2008

AJAIBNYA SINETRON INDONESIA

Kebanyakan film dan sinetron kita tanpa arah, miskin pengembangan akal budi, sehingga sangat membahayakan. Demikian akar persoalan yang terungkap dari perbincangan Kompas ( diterbitkan 14 Januari 2008) dengan sosiolog Imam B Prasodjo.

"Saya mencermati, film dan sinetron kita dewasa ini banyak tanpa arah," kata Imam. Menurut dia, kreativitas di industri perfilman dan sinetron jangan hanya sekadar motif menghibur. Mestinya, pada saat yang sama produk budaya tersebut harus mendorong energi positif."Kenyataannya, film dan sinetron yang ditayangkan di layar kaca dan ditonton banyak keluarga cenderung mengeksploitasi hiburan, mempertontonkan kepura-puraan, emosi yang tidak terkendali, rasa takut, amarah, dan sebagainya yang kurang bernilai positif," kata Imam.

Wah, jadi ingat! Minggu 2 Desember 2007, secara kebetulan saya menyaksikan sinetron “Eneng dan Kaus Kaki Ajaib” di RCTI. Acara yang kelihatannya diperuntukkan bagi anak-anak ini (dilihat dari judul dan jam tayangnya serta pemainnya) sarat muatan bernilai asosial yang digambarkan melalui tokoh-tokohnya, seperti:
  1. Tokoh Petugas Keamanan: seringkali mengeluarkan kata-kata kasar dan makian.
  2. Tokoh Happy, “si orang paling kaya di Bojong Kidul”: Selain berulangkali mengeluarkan kalimat bernada “kalau ada uang semua bisa beres” juga sering mengeluarkan kata kasar, berbicara dengan nada tinggi (yang kesannya tokoh ini selalu marah). Bahkan dalam salah satu adegan terlihat tokoh ini menjewer telinga salah satu peran anak-anak.
  3. Tokoh pasangan suami istri: Tokoh Istri yang sedang jalan-jalan di pusat perbelanjaan memaksa suaminya membelikan pakaian. Oleh karena tokoh suami menolak, si istri yang secara kebetulan menemukan dompet jatuh milik orang lain berniat membelanjakan uang dalam dompet tersebut. Sementara tokoh suami, kendati sempat menghalangi niat sang istri pada akhirnya takluk juga dengan paksaan sang istri dan justru menemani istrinya berbelanja.
  4. Tokoh 5 anak-anak: digambarkan kerap mengelabui orang dewasa demi melakukan tindakan yang cenderung “kriminal”. Seperti membeli baju dan meninggalkan KTP milik Pak RT di kasir sebagai jaminan. Dalam adegan lain, anak-anak ini digambarkan makan di restoran dan meminta bon pembayaran digabung dengan bon milik Pak RT yang sedang makan di meja yang berbeda dalam restoran yang sama.


Sungguh menggelisahkan, menyaksikan tayangan yang seakan diperuntukkan bagi anak-anak tapi penuh muatan yang sarat kebencian, kedengkian, ketamakkan, dan kekasaran. Pantas, praktek kekerasan, bahkan yang dilakukan oleh anak-anak di negeri "miskin hati" ini semakin menggejala.

Monday, January 07, 2008

SINETRON DAN JAKARTA-isme


Artikel (yang sudah saya edit) di bawah ini rasanya bisa memperkuat argumen dalam tulisan berjudul SELAMAT TAHUN BARU (KHUSUS WARGA JAKARTA) di blog ini yang mempermasalahkan tentang Jakarta-isme:

Nonton Sinetron, Remaja Jadi Rentan Konflik

KapanLagi.com - Sinetron yang ditayangkan di stasiun televisi sebagian besar berkiblat pada kebudayaan metropolitan ternyata mempunyai pengaruh negatif bagi remaja yang sering menontonnya, dan bahkan mereka rentan terhadap konflik. "Jika mental dari para remaja kita di daerah belum siap terhadap pengaruhnya, tidak hanya rentan terhadap konflik tetapi juga mereka akan salah dalam pergaulan dan bersikap, kehilangan identitas pribadi, dan sulit menyesuaikan dengan komunitas di tempatnya," kata pakar kebudayaan populer Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Drs. Redyanto Noor, M.Hum., di Semarang. Saat ini, kata dia, sinetron-sinetron remaja yang ditayangkan di televisi sebagian besar berkiblat pada kebudayaan kota metropolitan Jakarta, yang berkolaborasi dengan kemajuan media massa elektronik sehingga penayangannya sampai ke daerah-daerah.

Redyanto sendiri menyatakan tidak setuju dengan adanya penayangan sinetron tersebut karena yang ditampilkan tak seragam, seolah ada pengakuan bahwa remaja yang modern itu harus seperti yang ada di Jakarta. "Padahal pengertian modern itu kan lebih ke cara berpikir remaja itu sendiri," katanya.

Ia memprediksi penayangan sinetron itu akan mengakibatkan evolusi kebudayaan yang akan mengubah kebudayaan-kebudayaan di daerah secara perlahan. Bahkan, kata dia sekarang yang terjadi adalah revolusi yang cepat, bukan hanya evolusi yang perubahannya berlangsung secara perlahan. "Mula-mula yang diubah dari remaja-remaja di daerah itu adalah penampilan, seperti pakaian, model rambut, konsumsi makanan, dan kendaraan," katanya.

Di sisi lain diakuinya bahwa tidak semua sinetron yang berbau kebudayaan metropolitan itu berdampak buruk. Ada pula sisi positifnya, yakni remaja-remaja di daerah menjadi lebih berpeluang untuk mengembangkan pengetahuan yang hampir tanpa batas dengan adanya penayangan sinetron yang menampilkan kemajuan teknologi.

Friday, January 04, 2008

KLENIK DI MEDIA KITA
Mantan Presiden RI, Soeharto masuk rumah sakit, sudah tentu bakal jadi headline besar. Terlepas dari benar tidaknya perilakubapak sepuh ini beserta keluarga besarnya, jengkel rasanya membaca headline di detik.com yang di-posting dengan judul Rahasia Umur Panjang Soeharto (1)Laku di Gunung Lawu (Jumat, 4 Januari, 17.28 WIB). Artikel tersebut kurang lebih bercerita tentang bagaimana cara Presiden Soeharto bisa berumur panjang (Lah, namanya juga umur. Terserah Sang Pencipta dong untuk merengutnya dari kita!), yang dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan klenik. Eh, masih dilanjutkan pula dengan headline yang di-posting pada pukul 18:16 WIB berjudul Rahasia Umur Soeharto, Paranormal & Longsornya Gunung Lawu dan pukul 17:48 WIBdengan headline: Rahasia Umur Panjang Soeharto (2)Mbak Tutut dan Keris Kraton Solo.
Hari gini...., masih aja ada media yang menggembar-gemborkan isu klenik ke hadapan masyarakat. Pasca sejumlah stasiun TV mendapat teguran KPI karena menayangkan sinetron dan program berbau klenik, eh...malah media on-line yang mengakat isu ini.
Media adalah alat penyebaran informasi yang juga sekaligus alat pembelajaran. Inginkah praktisi media menyesaki kepala masyarakat Indonesia dengan persoalan klenik dan mistis? Atau sekedar mencari headline supaya situsnya banyak di-klik, demi meraup lebih besar lagi uang pengiklan?

BENARKAH KITA MEMBERIKAN YANG TERBAIK?

Saya termasuk ibu yang tak setuju, bayi kecil saya terlalu dini terstimulasi televisi. Bukan cuma televisi sih tapi juga DVD dan program-program audio visual lainnya. Alasan saya sederhana:Ingin anak saya bisa belajar bersosialisasi secara "tradisional" terlebih dulu baru mengenal media komunikasi lainnya. Nyatanya, banyak juga yang menilai saya ketinggalan jaman. Maklum, banyak produk dan program yang katanya bisa menstimulasi perkembangan otak bayi sejak dini.

Terserah mau pro atau kontra dengan pendapat saya, sebelum berkomentar baca dulu artikel yang saya ambil (dengan sedikit editing) dari KapanLagi.com ini:
Meski sudah banyak diciptakan acara khusus televisi dan rancangan film untuk bayi, tetap tak bisa mengubah pemikiran bahwa televisi bisa membawa dampak buruk bagi otak si kecil, menurut dokter ahli yang dimuat dalam majalah Neu-Isenburg.
Bayi belajar mengalami gangguan dari televisi, kata laporan ilmuwan yang mengacu kepada daya kerja otak yang merupakan penelitian Profesor Manfred Spitzer dari Ulm. Menurut Manfred Spitzer bayi tak dapat memproses rangkaian dari tampilan benda maupun suara dari televisi.
Spitzer mengatakan dalam satu penelitian di Amerika Serikat sekelompok bayi yang memiliki kisaran umur sembilan hingga 12 bulan dibacakan cerita dalam bahasa China sementara sekelompok bayi lainnya mendengarkan cerita yang sama dari sebuah televisi. Bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu dua bulan berselang dapat mengenali suara dalam bahasa China namun kelompok dua yang melulu hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di televisi tidak mempelajari apapun.

Menurut satu penelitian lainnya yang melibatkan 1000 keluarga yang memiliki bayi dengan kisaran usia delapan hingga 16 bulan yang secara berkala dibacakan cerita, maka anak-anak tersebut mengenali atau mengetahui jumlah kata 8 persen lebih banyak dari rata-rata.
Jumlah perbendaharaan kata anak-anak yang banyak melihat acara Baby TV atau DVD yang khusus diperuntukkan bagi bayi adalah 20 persen lebih rendah dari jumlah kata yang dimiliki anak-anak secara rata-rata. Sejumlah dokter spesialis yang dimuat dalam majalah kedokteran Jerman awal pekan ini secara tegas menyebutkan bahwa televisi secara mendasar tidak baik bagi otak bayi.

Saya percaya tiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Jadi, apa pilihan anda? :)

Thursday, January 03, 2008

SELAMAT TAHUN BARU
(KHUSUS WARGA JAKARTA)

Buat anda yang nggak ada kegiatan di malam tahun baru, barangkali menyaksikan program televisi yang sama dengan saya: Pesta Tahun Baru 2008 di Lapangan Monas, Jakarta Pusat. Keriaan yang menyedot pengunjung sekitar tiga juta orang dan dana miliaran rupiah (KOMPAS Rabu, 02 Januari 2008: Pesta Usai, Monas Rusak Jakarta dan Sekitarnya Aman) itu terasa agak mengganggu saya.

Bukan hanya karena pesta itu hadir ditengah bencana alam melanda sejumlah wilayah Indonesia, tetapi juga karena Pak Gubernur DKI Jakarta sambil asyik menyanyi bersama salah satu band yang laku dijual di Indonesia saat ini menyerukan: "Selamat tinggal tahun 2007 dan selamat datang tahun 2008. Mari kita bangun Jakarta untuk semua.

Aduh, Pak Gubernur....Malam itu kan anda tampil di Layar Kaca Stasiun TV nasional. Kok ya himbauannya cuma untuk Jakarta. Emang seluruh pemirsa pernah dan perlu ke Jakarta? Kalau tak salah, pihak Pemda DKI bak kebakaran jenggot pasca lebaran lalu untuk menghalau warga luar DKI yang mau mencari sesuap nasi dan seribu mimpi di kota (yang katanya) metropolitannya Indonesia. Benar nih, Jakarta untuk semua? Kalau DKI Jakarta diserbu pendatang, janji ya....jangan panik....Pernyataannya live on air loh...di stasiun TV nasional :)

," kata Fauzi Bowo. selain membahagiakan rakyat yang bisa bermalam tahun baru gratis (lantas besoknya tetap mikir gimana caranya dapat duit di ibukota) a yang diperkirakan menghabiskan dana miliaran rupiah itu membuat Taman Monas hancur.
Taman rusak dan menjadi kubangan lumpur. Kerusakan terlihat setelah ribuan pengunjung bubar.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang menemani warga Jakarta di Monas mengajak segenap masyarakat Ibu Kota merayakan Tahun Baru dengan damai serta berpesan agar kelestarian Taman Monas sebagai aset nasional dijaga. "Selamat tinggal tahun 2007 dan selamat datang tahun 2008. Mari kita bangun Jakarta untuk semua," kata Fauzi Bowo.

SEMUA BISA JADI "RADIO STAR"



Tertarik jadi bintang radio? Baca artikel yang saya ambil dari http://features.us.reuters.com/techlife/news/N27419626.htmlini:


Talk radio hosts need only a computer and phone

Thu, 27 Dec 2007

Photo



By Paul Thomasch

NEW YORK (Reuters Life!) - Anyone with dreams of being a talk radio star -- ranting about sports and politics, chatting with callers, sharing recipes or car-buying tips -- can play host on their own show, right on the Web.

BlogTalkRadio, Talkshoe and Skypecasts are among the Web sites that have become popular for would-be radio jocks, and all it takes is a computer and a telephone.

"You can create a show within five minutes and be on the air within 15 minutes," said Alan Levy, the CEO of BlogTalkRadio, a site he started shortly after his father fell ill with non-Hodgkins lymphoma in 2006.

At first, Levy created a blog for his father, allowing him to easily keep in touch with family and friends. Later, Levy decided he wanted something more than a blog.

"I wasn't feeling like it was a conversation -- it was all text." So he came up with the idea of creating broadcasts for bloggers, and BlogTalkRadio was born.

With BlogTalkRadio, hosts use a telephone and computer to create live, call-in shows. Unlimited participants can join, and the service is free because it's advertising-supported. After airing, the shows are archived and become available as podcasts for other listeners.

So far, nearly 46,000 shows have been created -- with subjects ranging from entertainment to politics to sports and lifestyle. Actor Brad Pitt, politician John Kerry, baseball player David Wright and author Jodi Picoult are among those who have been interviewed.

"Some shows are good, some aren't so hot," said Levy. "The cream rises to the top."

Around 350 shows are on the air each day, some hosted by established bloggers, like Ed Morrissey or Flylady. Others are from people who are just beginning to gain a strong following on the Web site.

"There's a whole network of budding stars," says Levy, who himself hosts a program.

DAILY SHOW

Shaun Daily is one such example. As a host of a radio show on BlogTalkRadio, Daily become involved in a campaign to save the CBS television show "Jericho," which had been canceled before the 2007-08 season.

Daily invited producers and stars from "Jericho" to his radio program, invited fans to call, and urged listeners to send nuts to CBS headquarters -- a reference to a line used by a character in the TV show.

At one point, Daily's broadcasts on BlogTalkRadio were attracting 10,000 listeners a night. CBS eventually relented, extended "Jericho" by 7 more episodes, and wrote a letter to fans urging them to "please stop sending us nuts."

Like BlogTalkRadio, Skypecasts are another option for aspiring radio hosts. Essentially, they are free programs that can host up to 100 people from anywhere in the world.

A host can control who speaks and eject people if they wish, just like a radio broadcaster. Skype then chooses the most interesting or popular broadcasts and displays them on the home page. Skype is a unit of eBay.

Talkshoe, another site, requires users to download software for its "Talkcasts." Those who want to listen are then directed to a "Live Now" page to see what shows are playing. They can also download recorded shows, or podcasts, from the site.

Otherwise, you can host a "Talkcast" using features like phone muting, chat muting, request-to-talk queuing, and recording from a Web-based dashboard. You choose the topic of your show, schedule it on the site, and, unlike traditional radio, can have listeners from anywhere tune in or participate.

"We have some extremely loyal users," said Mark Juliano, a senior vice president and founder. "The kind of service we are providing is something people were paying thousands of dollars for not too long ago."

Wednesday, January 02, 2008

(LAGI-LAGI) BAHAYA MENONTON TELEVISI
Artikel ini saya salin dari Majalah Mother & Baby Indonesia edisi Januari 2008:
"Apakah Anda membiasakan bayi atau batita Anda tertidur sambil menonton TV? Bila ya, maka Anda adalah salah satu dari banyak orangtua yang kelelahan sehingga tidak menyadari bahwa Anda telah menanamkan kebiasaan tidur yang tidak baik pada si kecil Anda. Ahli kesehatan di Inggris yang melakukan survei pola tidur anak menyatakan bahwa banyak orangtua yang tidak menyadari bila mereka sering membiarkan anaknya tertidur di depan TV, maka anak lebih sering terbangun di tengah malam. Jadi, kalau anda ingin bayi atau balita anda tidur tenang sampai pagi, matikan TV sebelum ia tertidur, allu tidurkan ia di tempat tidurnya."
Yuk, kita matikan TV sebelum tidur....Jangan-jangan bukan anak kita yang keberatan, tapi kita lah yang lebih berkeberatan :)

TANGGAPAN YANG CEPAT TANGGAP

20 November 2007 lalu, saya mem-posting tulisan mengenai keresahan saya tentang kutipan pernyataan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Fetty Fajriati Miftach yang dimuat KOMPAS 19 November 2007 berkaitan dengan aksi kekerasan di televisi. Tersirat bahwa KPI tak berwenang terhadap program televisi yang menayangkan acara kekerasan karena berkaitan dengan produk dan kebebasan pers yang tidak boleh dimatikan (baca: Kemana Harus Mengadu?). Selain menulis di blog ini, saya juga mengirimkan e-mail ke website KPI sehubungan hal yang sama.

Alhamdulillah, tak lama kemudian, Fetty Fajriati, mengirimkan tanggapan, langsung ke e-mail pribadi saya. Tujuannya, apalagi, kalau bukan klarifikasi atas dimuatnya kutipan wawancara tersebut. Dalam e-mail-nya, sang wakil ketua KPI ini kurang lebih menjelaskan bahwa wartawan yang mewawancarainya selama 15 menit itu hanya memuat keterangan dari KPI sebagai tempelan dankutipan tersebut ditempatkan ditempat yang tidak tepat.

Dalam klarifikasinya, dijelaskan bahwa saat diinterview pertanyaan yang diajukan adalah apakah program kriminal di televisi seperti buser, sergap danser..ser lainnya bisa dilarang? Jawaban Fetty adalah: Sepanjangitu produk pers, KPI tidak berwenang melarang ia bertumbuh di televisi kita. Karena itu berkaitan dengan freedom of press yang saat ini kita junjung tinggi. Tetapi KPI bisa berwenang untuk memberikan sangsi administratif dan pidana bila ia melanggar peraturan yang ditetapkan KPI dalam P3 SPS yaitu PedomanPerilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran. Bila ada adegan kekerasan, porno, dan cabul yang tidak tidak sesuai dengan isi berita, maka KPI berhakmemberi teguran. Bila terjadi lagi, ditegur lagi,sampai 3 kali. Bila tidak diindahkan juga setelah 3kali teguran, maka KPI berhak untuk meminta stasiun televisi menghentikan program itu, setelah KPIberunding dengan Dewan Pers. Tetapi sesuai dengan azas kebebasan pers, televisi yang bersangkutan bisa saja membuat program serupa dengan nama berbeda, sebagai pengganti dari programyang dilarang KPI itu, asal mau mengikuti P3 SPS KPI.

Senang juga, e-mail saya ditanggapi langsung secara pribadi dan profesional. Dalam balasan saya ke e-mail pribadinya, saya memberi ide agar KPI mengklarifikasi tulisan di KOMPAS tersebut. Sayang sampai sekarang e-mail saya tak berbalas, entah setuju atau tidak dengan pendapat saya, bisa karena sibuk, atau kesal dengan balasan saya yang bilang bahwa sebaiknya klarifikasi dilakukan supaya KPI tidak dibilang mandul.

Mudah-mudahan sebagai badan independen yang bebas dari campur tangan pemodal maupun kepentingan kekuasaan, para anggota KPI siap sedia dengan kritik pedas dari Warga Negara Indonesia yang notabene pemilik frekuensi sebagai ranah publik kita. Selamat Bekerja KPI!

Wednesday, December 26, 2007

KONTES MENYANYI VERSUS KONTES POPULARITAS



Sejumlah pendukung fanatik Mike di "Asian Idol" geram. Gara-gara Mike kalah di Asian Idol yang pertama yang disiarkan stasiun televisi RCTI. Dalam kontes yang diikuti perwakilan dari Filipina, Malaysia, Vietnam, India, Indonesia, dan Singapura ini, ternyata Hadi Mirza dari Singapura lah yang menjadi pemenangnya.

"Ini pasti gara-gara banyak orang Indonesia yang pilih Singapura deh buat pilihan keduanya!" "Ah...pada milih HAdi, soalnya ganteng sih". Itu beberapa komentar yang sempat saya dengar. Komentar lebih seru lagi dilontarkan saat KOMPAS mengeluarkan wawancara dengan pihak penyelenggara Asian Idol (yang notabene orang Indonesia) yang menjelaskan mengenai cara penghitungan suara melalui voting SMS. Sebab memang banyak orang mempertanyakan, kok bisa sih Mike dengan suara emasnya yang dipuja-puji sejumlah juri kalah melalui voting? Padahal penduduk Indonesia kan banyak.

Ini adalah kutipan cara penghitungan hasil voting yang saya peroleh dari wikipedia dengan keyword Asian Idol:

"There are several differences in voting and tabulation between Asian Idol and other Idol shows. Unlike the latter wherein the viewers get to vote for one contestant, the voting procedure for Asian Idol requires viewers to send SMS votes for two favorite Idols, thus allowing contestants to receive votes aside from their respective countries.[7][22]

As consideration on population size among the participating countries, tabulation of votes are done through an "Equal and Even Cumulative Method", wherein the total votes of each country are converted into percentages.[22][23]"

Pusing? Sudahlah...tak usah dipikirkan cara penghitungannya. Intinya, menghitung hasil voting sms Asian Idol ternyata tak semudah yang kita bayangkan.

Banyak pemirsa yang lupa: Asian Idol adalah sebuah tayangan televisi yang merupakan produk "jualan". Jadi kalau berulang kali Simon Cowell, sang juri paling berkarakter di American Idol, berulang kali berujar: "This is a singing contest, not a popularity contest", maka kali ini saya terpaksa tak sependapat dengan Cowell. Saya sangat percaya: Program televisi adalah produk yang dijual dalam kemasan tertentu sesuai keinginan dan kebutuhan pembuat programnya. Peenonton hanyalah pihak pasif yang menerima apa yang disaksikannya. Walau sekarang pasifnya penonton kerap berusaha diselubungi dengan kemasan yang seakan membuat pemirsa menjadi berperan aktif. Misalnya melalui pemilihan pemenang program Idol melalui voting SMS.

Toh, nyatanya penonton hanyalah pihak pasif yang masihbertanya-tanya: "Kok Hadi sih yang menang?"





Tuesday, November 27, 2007


KABAR (Mudah-Mudahan) GEMBIRA

Kemarin saya mendengar iklan radio mengenai citizen journalism Harian Republika. Intinya, harian ini mengajak pembacanya mengirimkan materi berita, bisa foto ataupun tulisan untuk dipublikasikan melalui Harian Republika.


Mengutip tulisan di republika.co.id (Genre Baru Bernama Citizen Journalism, Rabu, 07 Nopember 2007) , Nicholas Lemann, profesor di Columbia University Graduate School of Journalism, mencatat: Kelahiran jurnalisme publik (citizen journalism) dimulai melalui gerakan pada Pemilu Amerika Serikat 1988. Saat itu publik kehilangan kepercayaan terhadap media mainstream seputar pemilihan presiden AS. Di Asia, Oh May News mengalami sukses luar biasa juga dipicu oleh pemilihan presiden Korsel.


Artikel dalam Online Journalism Review (2003), oleh J. D. Lasica (http://en.wikipedia.org/wiki/Citizen_journalism) menerangkan ada berbagai bentuk citizen journalisme: 1) Partisipasi Audience, misal: komentar atas berita yang dipublikasi sebuah media, suara anda di Metro TV, Surat Pembaca di Kompas, kolom comment pada blog adalah beberapa diantaranya), 2) Berita dan informasi independen dari website, 3) Full-fledged participatory news sites misal: OhmyNews, 4) Collaborative and contributory media sites, misal: Slashdot, Kuro5hin, 5) Jenis lain dari thin media, seperti mailing lists atau email newsletters, dan 6) Personal broadcasting sites, misal: video broadcast sites.


Artikel di republika.co.id (Genre Baru Bernama Citizen Journalism, Rabu, 07 Nopember 2007) menggambarkan Citizen Journalism sebagai bentuk perlawanan. Baik terhadap hegemoni dalam merumuskan dan memaknai kebenaran, dominasi informasi oleh elite masyarakat, sampai perlawanan terhadap tatanan peradaban yang makin impersonal. Lebih lanjut artikel tersebut memuji citizen journalism sebagai penemuan kembali kemanusiaan, persahabatan, dan kekeluargaan.

Itu gambaran sempurnanyal. Nyatanya, penerapan Citizen Journalism di Harian Republika hasil reportase pembaca hanya dipublikasikan pada edisi ahad setelah diseleksi redaksi. Untuk Suara Anda di Metro TV hanya segelintir suara yang bisa tersiarkan. Coba kirim Surat Pembaca di KOMPAS, mudah-mudahan bisa termuat. Bahkan di blog pun jika sang administrator tak suka dengan komentar kita, komentar tersebut bisa di hadang ter-up load. Banyak alasan mengapa tetap ada praktek hadang-menghadang dalam Citizen Journalism, diantaranya keterbatasan waktu siar atau halaman untuk mencetak, faktor kepentingan untuk publik, sampai faktor muatan informasi atau berita mana yang lebih menguntungkan jika dipublikasikan oleh sang administrator (atau istilah-istilah lain dari si "penghadang" informasi dari publik).

Walau demikian, semangat ber-citizen journalism patut terus disosialisasikan Daripada terus menerus menerima muatan media yang seluruhnya dipasok sekelompok pemilik modal dan atau kekuasaan. Namanya juga hidup, mana ada yang sempurna....

Friday, November 23, 2007

BAK KERBAU DICUCUK HIDUNG
Kemarin juru masak ibu saya berniat mempraktekkan resep baru yang didapatnya dari program masak-memasak di salah stasiun televisi swasta (Sayang saya lupa stasiun televisi dan nama programnya). Sederhana resepnya, terong goreng tepung. Masalahnya ia berkeras mau menggunakan sebuah tepung serbaguna bermerk tertentu yang identik dengan salah satu merek bumbu penyedap makanan (yang tentunya ber-MSG). Heran juga ibu saya, kenapa spesifik produk itui? Padahal juru masak tidak pernah menggunakan produk tersebut. "Soalnya, di resepnya pakai tepung itu....", jelas juru masak ibu saya dengan polos.
Oalah....., tentunya sang juru masak tidak paham kenapa sampai di resep tersebut penting disebutkan merek tepung serbaguna tertentu.
Di jaman serba kejar uang seperti sekarang sejumlah media berusaha "menjual" space iklannya lebih kreatif dan yang punya duit (baca: pengiklan) pingin produk atau jasanya makin lancar terjual. Salah satu taktik adalah membuat program atau tulisan yang seakan tidak disusupi muatan iklan. Padahal sebenarnya media dan pengiklan berkongsi memasukan muatan informasi produk atau jasa sang pengiklan secara halus (soft sell). Contohnya ya...program masak memasak yang tiap hari disaksikan hampir semua perempuan yang tinggal di rumah ibu saya.
Namanya boleh soft sell, tapi dampaknya bisa lebih besar daripada hard sell. Ketimbang memasang spot iklan dan bersaing dengan sekian banyak produk atau jasa sejenis untuk bisa diingat oleh target konsumen, mending menciptakan program (istilah keren media penyiarannya: blocking time) yang disusupi pesan-pesan untuk menggunakan produk atau jasa yang hendak disosialisasikan. Bayangkan berapa banyak yang secara tak sadar mengikuti resep dan menggunakan tepung serbaguna bermerk tertentu di program yang disaksikan juru masak ibu saya itu.
Itu baru satu produk di satu program. Seorang senior saya di masa jayanya sebagai penyiar radio, dalam empat jam siaran membacakan iklan baca (adlibs, bahasa penyiarannya) minimal empat buah. Di masa itu, apa yang "diceritakan" senior saya ini, sebagian besar "ditelan bulat-bulat" pendengar setianya. Bahkan saya sempet jadi saksi telinga (karena melalui radio) sekedar bercerita baru makan martabak yang enak banget, pendengar langsung telepon ke studio khusus menanyakan di mana tuh martabak yang uenak tenan-nya dijual? Padahal si tukang martabak boro-boro pasang iklan. Sadar lagi diomongin aja nggak.
Sampai detik ini, saya masih sangat percaya media punya dampak besar terhadap isi kepala audience-nya. Apalagi untuk kasus negara dengan populasi manusia cerdas yang masih menyedihkan seperti Indonesia.
Jangan sampai kita jadi bak kerbau dicucuk hidungnya....

Tuesday, November 20, 2007

Kemana Harus Mengadu?



KOMPAS 19 November 2007 di headline-nya "Dari Lingkungan yang Salah Mereka Meniru...." memuat kutipan pernyataan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Fetty Fajriati Miftach berkaitan dengan aksi kekerasan di televisi. " KPI tidak memiliki wewenang terhadap program televisi yang menayangkan acara kekerasan karena berkaitan dengan produk dan kebebasan pers yang tidak boleh dimatikan", demikian menurut Fetty. "Namun, bila tayangan tersebut mempertontonkan gambar yang tidak layak dilihat, sadis, atau porno, kami baru bereaksi dan menegur stasiun televisi yang menayangkannya dan juga Dewan Pers", lanjutnya.

Aneh, kok pernyataan pertama dan kedua sepertinya bertentangan? Pernyataan pertama menyatakan bahwa KPI tidak punya wewenang atas acara kekerasan karena berhubungan dengan kebebasan pers. Di pernyataan kedua narasumber yang sama menyatakan kalau mempertontonkan gambar yang tidak layak dilihat, sadis, atau porno, KPI bisa bereaksi.

Padahal, undang-undang penyiaran tahun 2002 pasal 35 (5b) menjelaskan bahwa: Isi siaran dilarang menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkoba, dan obat terlarang.

Mudah-mudahan sih cuma saya yang salah memahami pesan yang disampaikan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ini saja. Sebab jika benar KPI tidak berwenang atas acara yang bermuatan kekerasan demi dalih kebebasan pers, lantas harus kemana lagi publik (sebagai PEMILIK FREKUENSI) mengadu?

Wednesday, November 14, 2007

TV: SAHABAT ATAU MUSUH
Koran Tempo hari ini memuat hasil penelitian University of California, Rady's Children Hospital, dan University of South Alabama di Amerika Serikat. Kesimpulannya: Menonton televisi tak hanya berhubungan dengan obesitas pada anak, tapi juga berisiko mencetuskan darah tinggi. Katanya, anak yang banyak menonton televisi terlalu banyak duduk, diam, kurang bergerak, sehingga terbuka peluang mengalami kegemukan, termasuk darah tinggi.
Sementara itu, di Majalah Mother & Baby Indonesia edisi Bulan ini, ada kutipan hasil penelitian yang kurang lebih menyimpulkan bahwa dengan menonton televisi, perkembangan anak akan lebih maksimal. Memang di artikel tersebut dijelaskan, bahwa anak harus diajak berkomunikasi saat sedang menonton televisi.
Sama seperti memilih sahabat, setiap orang punya pertimbangan masing-masing. Begitupula dengan pertimbangan anda dalam menetapkan televisi. Sahabat atau musuh keluarga?

Thursday, November 08, 2007


SEMUA UNTUK JAKARTA*


Kalau ada yang sedang membuat analisa isi media di Indonesia, saya rasa topik yang sedang in adalah : Kemacetan Jakarta. Memang benar, kemacetan di seputaran Jakarta makin menggila. Benar, bahwa banyak warga yang terhambat aktivitasnya. Benar, kemacetan Jakarta menyebabkan kerugian materiil dan imateriil yang besar.

Lantas, mana serampangannya? Bencana di Gunung Kelud, Semeru, Anak Krakatau bisa dan sudah menimbulkan korban yang juga warga negara Indonesia. Entah ada yang peduli atau tidak. Operasi yustisi di (lagi-lagi) DKI Jakarta menyebabkan sejumlah orang yang hanya berusaha mencari setengah (saking sedikitnya keberuntungan yang bisa diperoleh) sendok nasi untuk keluarganya dipulangkan ke desanya dan menjadi pengangguran (padahal ada yang katanya sudah bekerja bertahun-tahun di ibukota dan nggak punya administrasi kependudukan yang lengkap karena nggak tahu bahwa untuk kerja butuh syarat administrasi kependudukan -suatu bukti bahwa informasi adalah barang mahal di negara ini). Belum lagi isu lain, seperti pejabat pemerintah yang mendadak harta kekayaannya bertambah secara drastis.

Tapi siapa mau peduli? Jakarta kan pusat pembangunan (Loh, katanya sudah ada otonomi daerah?). Jakarta kan kota tersibuk di Indonesia. Jakarta kan pusat pemerintahan. Ah, mudah-mudahan cuma asumsi saya bahwa isi media masih didominasi "Ke-jakarta-an". Kalau begitu, jangan main angkut pulang para pendatang dong, lah wong yang mereka tahu cuma tentang Jakarta melulu.

* Thx buat munchkikins buat ide topik ini :)