KABAR DARI PAMAN SAM Perubahan sistem penyiaran digital di Amerika Serikat diprediksi merugikan kelompok minoritas. Dibanding kelompok kulit putih, Etnis Hispanic diperkirakan hampir dua kali lebih besar kemungkinannya tidak memperoleh akses terhadap siaran televisi ( baca: Digital TV Shift Affects Minorities Most dalam newsmax.com, charlotte.com, usadaily.com, dan beberapa situs lainnya pada pertengahan Februari lalu).
Awal februari 2009, stasiun-stasiun televisi di Amerika Serikat hanya akan mentransmisikan sinyal digital. Artinya, pemirsa yang menggunakan antena sebagai penerima siaran televisi dan tidak memiliki perangkat penerima siaran digital tak mungkin bisa menerima siaran teklevisinya kecuali memiliki converter box khusus. Padahal survei Nielsen memperkirakan lebih dari 13 juta rumah tangga di Amerika Serikat menerima siaran melalui perangkat non-digital sets. Berdasarkan ras persentase ketidaksiapan adalah sebagai berikut: 8.8% kulit putih, 11.7% asia, 12.4% kulit hitam, dan 17.3% Hispanics. Siapa sangka di Amerika Serikat yang katanya negara adi kuasa sejumlah besar penduduknya terancam tak bisa menikmati siaran televisi. Inilah yang oleh akademisi ilmu komunikasi dikenal dengan knowledge gap hypothesis. Hipotesis ini menjelaskan bahwa terdapat dua kelompok masyarakat. Kelompok pertama, yaitu kelompok information-rich " haves" memiliki akses informasi yang lebih baik karena kelompok ini terdiri dari kelompok terdidik yang memiliki kemudahan dalam mengakses informasi. Sementara kelompok information-poor "have nots" merupakan kelompok dengan pendidikan rendah dan akses yang juga terbatas untuk memperoleh informasi. Lebih ironis lagi, teknologi media yang berkembang pesat merupakan salah satu penyebab makin jauhnya jurang pembatas akses informasi antara si kaya dan si miskin. Padahal kita menyangka teknologi komunikasi mampu mempermudah akses perolehan informasi bagi semua. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk memperkecil jurang ini. Dalam kasus digitalisasi siaran televisi di Amerika Serikat ini kabarnya pemerintah telah mempersiapkan penyediaan kupon subsidi untuk memperoleh converter yang memungkinkan digunakan sebagai "jembatan" penerima pesawat analog atas siaran digital. Waduh, jangan-jangan digitalisasi di Amerika Serikat menular ke Indonesia nih....Siap nggak pemerintah Indonesia mensubsidi supaya tidak terjadi jurang pemisah antara si kaya dan miskin informasi? Barangkali pemerintah kalau membaca tulisan ini akan jawab: "Subsidi BBM aja dikurangi, apalagi untuk akses informasi." Eh, tapi ini cuma asumsi saya loh..... |
Thursday, April 03, 2008
KOK MARAH?
Akses terhadap situs YouTube terancam diblokir bila dalam dua hari tidak membuang Fitna dari content mereka. Aksi pemblokiran akan dilakukan oleh ISP se-Indonesia dengan koordinasi Depkominfo. Demikian kata Menkominfo M. Nuh (Detik.com, Selasa, 1/4/1008)."Menurut M. Nuh surat permintaan Pemerintah RI terhadap pengelola YouTube telah dilayangkan pagi ini.
Waduh, baru beberapa hari Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) diberlakukan sudah ada tindakan yang menurut saya berlebihan. Terus terang, saya belum nonton Fitna & sempet jengkel waktu dengar kabar beredarnya film ini.
Tapi, mendengar penjelasan Cak Nun di sebuah interview radio, mendadak saya malu. Cak Nun kurang lebih bilang, kalau Rasulullah menonton film itu, pasti Rasulullah akan tersenyum. Ngakunya Muslim modern yang berpikiran terbuka dan bangga Indonesia mulai latihan berdemokrasi. Lantas kenapa marah ada orang yang berpendapat berbeda?
NGERI JUGA JADI WARTAWAN
TEMPO Interaktif ( Kamis, 3 April 2008) melaporkan Aliansi Jurnalis Independen mendesak pihak kepolisian mengusut pelaku penganiayaan terhadap wartawan TV One. Penganiayaan dialami oleh dua orang wartawan TV One, Aditya dan Eko Subiyakto, ketika hendak meliput di kawasan pabrik Jababeka, Cikarang, beberapa hari lalu. Keduanya dianiaya petugas berseragam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Sumber yang sama menjelaskan, laporan yang diterima AJI mencatat sedikitnya 12 kasus serupa terjadi pada 2007.
Sayang di laporan yang saya "klik" judulnya di tempointeraktif tidak dibeberkan bagaimana penjelasan dari pihak petugas yang menganiaya para wartawan. Tanpa bermaksud membela tindak kekerasan yang dilakukan, beberapa kali saya sempat mengamati tindakan wartawan yang juga (menurut saya) mengganggu kenyamanan narasumber.
Contoh sederhana misalnya, saat kondisi berduka sejumlah wartawan tetap merangsek ke keluarga seorang selebriti yang meninggal dunia (nggak tahu juga sih pihak keluarga keberatan atau nggak. Tapi kalau saya yang jadi keluarganya pasti wartawannya sudah saya usir dengan tidak terhormat), belum lagi penayangan gambar jenazah yang, aduh....rasanya ngga layak dipertontonkan.
Saya memang bukan wartawan. Saya juga bukan orang yang layak dikejar-kejar wartawan jadi narasumber. Sesungguhnya saya tak tahu bagaimana perasaan para narasumber yang dikejar-kejar wartawan. Mungkin saya berempati berlebihan terhadap para narasumber yang ingin memiliki privasi, atau setidaknya ingin menyiapkan kata-kata untuk diungkapkan di depan media.
Seorang aktivis dan wartawan media penyiaran senior pernah bilang: "Semua profesi pasti berisiko. Termasuk juga menjadi wartawan. Banyak wartawan menjadi tawanan perang, bahkan sampai meninggal dalam kondisi tak layak. Itulah resiko profesi."
Selamat berjuang teman-teman wartawan.Mudah-mudahan kalian ditunjang dengan asuransi yang memadai.
Wednesday, February 27, 2008
PANIK!
Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap melalui layar kaca . Barangkali media jenis lain pun sama paniknya, cuma kebetulan saya hari itu hanya menyimak televisi :) Jadi pekerja televisi sajalah yang saya tangkap kepanikannya.
Misalnya, ada stasiun televisi swasta yang reporternya berdiri di depan sebuah ambulans. Lantas sang reporter melaporkan (kurang lebih), " Inilah ambulans yang akan digunakan mengangkut jenazah mantan presiden kedua RI...." Eh, tahunya mendadak ambulans tersebut bergerak dan tertangkap oleh kamera bahwa ambulans itu adalah ambulans kosong.
Belum lagi reporter stasiun televisi swasta lainnya, salah menyebut nama sejumlah pelayat yang datang ke RSPP. Atau salah seorang news anchor di sebuah stasiun televisi swasta yang dengan entengnya memotong laporan langsung reporter yang bertugas karena disangka rombongan pembawa jenazah sudah datang. Lantas langsung diralat begitu terlihat di layar kaca bahwa yang datang bukanlah rombongan pembawa jenazah Pak Harto.
Banyak pula reporter atau news anchor yang menarik asumsi. Misalnya, ada yang melaporkan: "Kelihatannya jenazah akan disemayamkan di Cendana, untuk kemudian diterbangkan ke solo. Kemungkinan akan disemayamkan dulu di Ndalem Kalitan...."
Beberapa contoh di atas memang tidak berakibat fatal. Hanya saja cukup mengganggu dan sekaligus membuktikan media kita sepertinya tak punya standar operasional pelaporan berita yang ajeg. Di sisi lain, memang pemerintah RI pun tak punya standar operasional pemakaman mantan presiden seperti di beberapa negara lain. Sehingga run down acara pun sulit tertebak.
Tapi, bukankah pekerjaan media adalah "mencari dan melaporkan" berita sehingga publik bisa memperoleh informasi? Sehingga ketidaksiapan mestinya menjadi kata yang haram bagi pekerja dan institusi media. Jika media tak siap memberitakan sesuatu, terus publik mau tahu informasi dari mana dong?
Wednesday, February 13, 2008
Waktu ku Kecil
"Waktu ku kecil hidupku amatlah senang,
Senang dipangku dipangku dipeluknya,
Serta dicium dicium dinamakan,
Namanya kesayangan"
Masih ingat lirik lagu di atas? Judulnya sampai sekarang saya nggak tahu pasti sebetulnya, tapi lirik tersebut berulang kali terngiang di kepala saya setelah menyaksikan acara Idola Cilik Seleb di RCTI Minggu 10 Febriati 2008 lalu.
Awalnya, terhibur juga dengan penampilan beberapa peserta anak-anak (yang dikategorikan selebriti oleh pihak pembuat program) yang berani tampil di atas panggung. Walaupun tidak semua pesertanya bisa menyanyi.
Sampailah pada giliran salah satu peserta yang tampil membawakan lagu dangdut. Bukan masalah lagu dangdutnya, melainkan karena si peserta (Kesha, namanya) menyanyikan lagu dangdut dengan gaya orang dewasa. Maksud saya, anak yang rasanya belum akil balik ini, menyanyikan lagu dangdut dengan menggoyang-goyangkan pinggul dan dadanya, seperti layaknya penyanyi dangdut dewasa. Tidak berhenti di situ kekagetan saya, sebab ketika diinterview oleh Oki Lukman (pembawa acara) setelah bernyanyi Kesha mengakui bahwa pemilihan lagu dangdut adalah atas saran dari Bunda-nya (entah siapa yang dimaksud dengan Bunda di sini, ibunya atau orang dewasa lain yang disapanya dengan bunda). "Wah....jangan-jangan, koreografi egal-egol cara penyanyi dangdut dewasa pun disarankan oleh sang Bunda", batin saya.
Kontestan lain, walau tak muncul dengan koreografi egal-egol, juga membuat saya dan penonton lain yang bmenyaksikan program tersebut di rumah Nenek saya, berkomentar: " Emang nggak ada lagu anak-anak yang bisa dinyanyiin, ya?" Komentar muncul, karena seluruh peserta menyanyikan lagu berlirik dewasa. Satu-satunya yang membawakan lagu anak-anak pada episode tersebut (sepanjang pengelihatan dan pendengaran saya) adalah Matta Band sebagai bintang tamu.
Lebih menyedihkan lagi karena, setiap selesai kontestan menyanyikan lagu, lantas pembawa acara mengundang pemirsa (yang mestinya berusia anak-anak, karena ini kan program anak-anak) mengirim SMS untuk mendukung idola favoritnya ke nomor sms premium. Bukan cuma itu, ada hadiah 1,5 juta rupiah pula untuk pengirim sms yang beruntung. Luar biasa! kecil-kecil sudah diiming-imingi hadiah dengan cara begitu mudah, tanpa kerja keras.
Waktu saya kecil, mimpi saya adalah suatu hari Pak Tino Sidin akan menampilkan gambar yang saya kirim (walau nggak pernah juga saya kirim) di layar kaca. Waktu kecil, bangga rasanya melihat kakak saya muncul di acara Taman Indria asuhan Bu Kasur dengan mengenakan baju kurung dan tanduk khas pakaian Minangkabau di kepalanya. Waktu saya kecil, ingin rasanya bisa main piano seperti Bu Meinar di Acara Ayo Menyanyi (Bener nggak nih nama acaranya, ya?).
Mimpi memang akan selalu berkembang sesuai perkembangan zaman. Anak saya mungkin tak akan puas hanya melihat gambarnya sekilas saja diekspose di televisi seperti cara Pak Tino dulu. Anak jaman sekarang barangkali sulit disenangkan hanya dengan dipangku dan dipeluk seperti lirik lagu di awal tulisan ini. Saat kanak-kanak mimpi kita adalah ingin cepat besar. Saat kita dewasa, tak jarang kita mempertanyakan: Mengapa masa kecil kita cepat berlalu. Sebagai orang dewasa...tegakah kita membiarkan anak-anak menjadi dewasa sebegitu cepatnya?
Subscribe to:
Posts (Atom)