Wednesday, June 21, 2006

MENYELEKSILAH SEBELUM ANDA DISELEKSI

Teman saya yang seorang psikolog kemarin bercerita tentang pengalamannya diwawancara media. “Diwawancaranya lama, tapi yang dimasukin (ke dalam isi media) sedikit.” Bagi praktisi media massa, hal tersebut yang biasa dikenal dengan proses seleksi isi media, adalah hal yang dianggap wajar. Alasan tindakan penyeleksian isi media bisa macam-macam. Dikejar deadline, mempertahankan lay out, atau yang lebih politis adalah untuk membentuk opini publik.

Menciptakan opini publik merupakan salah satu kekuatan maha dahsyat media massa. Media massa adalah satu-satunya media dalam komunikasi yang dapat menjamin penyampaian pesan secara (relatif) serentak bagi audience yang terpisah satu sama lain. Misalnya, Titik Soeharto baru sekali muncul di layar kaca SCTV saat piala dunia 2006, banyak orang mulai mencium ada sesuatu dibalik pemilihan Titik yang awam perihal bola sebagai presenter pergelaran piala dunia 2006. Opini publik pun terbentuk: Keluarga Cendana berencana kembali? (Wallahualam).
Coba kita lihat alasan lain penyeleksian isi media, melalui praktek seleksi isi media lainnya. Dalam tempo singkat, ramai-ramai masyarakat membicarakan perseteruan perebutan anak Tamara & Rafly dan misteri “anak” Taufik Hidayat (Mudah-mudahan anda mengenal kasus-kasus ini, supaya saya tidak perlu berpanjang-panjang menceritakan masalah rumah tangga orang). Sebagian orang mempertanyakan, “Kenapa sih yang berulang kali ditampilkan foto buram yang sama dari (yang katanya) anak Taufik Hidayat?” atau “Gambar di infotainment-infotainment kok kayaknya seragam ya…Tamara lagi ngomong dengan suara bergetar mata berair, raut wajah keras seperti marah, dengan statement yang sama terus menerus.” Nah…., kalau isi media yang seperti ini, saya rasa tujuannya sederhana: Demi mengejar deadline.
Iseng-iseng coba hitung ada berapa banyak tayangan infotainment tiap hari dan hitung aja ada berapa headline yang diangkat? Tidak perlu menghitung serius pun kita bisa dapat gambaran bahwa perlombaan mencari berita (gosip?) yang jumlahnya tidak seberapa dari kaum selebritis Indonesia akan berat bagi pekerja infotainment. Makanya, di lapangan para pekerja infotainment berbondong-bondong mengejar para selebiritis, syukur-syukur dapat yang eksklusif. Kalau nggak dapat yang eksklusif, ya terima saja gambar-gambar, statement-statement dan angle-angle kamera yang sama persis dari berbagai tayangan infotainment. Lah wong, nyari beritanya bareng-bareng sama tim dari infotainment yang berbeda, kok! Mana bisa dapat statement, angle, atau gambar yang beda.
Masalahnya, keterbatasan waktu dalam mengemas berita juga akan berakhir pada pembentukan opini konsumen media. Contohnya, karena Tamara yang berulang kali dilihat bicara dengan suara bergetar dan mata yang tergenang air mata (tapi tidak jatuh) kita jadi bias berasumsi, “Ah ini cuma akting Tamara”. Padahal sebenarnya tayangan infotainmentnya sendiri (barangkali) tidak berniat menayangkan gambar tersebut bertubi-tubi. Alasannya Cuma satu: memang tidak ada stock gambar yang lain, sementara program sudah harus tayang!

Mau karena alasan politis atau alasan bisnis seperti terkejar deadline, pada akhirnya proses seleksi berakhir dengan pembentukan opini publik. Sebagai konsumen media, tinggal pintar-pintarnya kita, untuk menyeleksi hasil seleksi isi media yang dipublikasi oleh manajemen media massa melalui medianya. Kalau tidak? Ya, tinggal terima opini (atau jangan-jangan, sekaligus logika) kita diobok-obok oleh para kapitalis media.

No comments: