Wednesday, June 28, 2006

NO MORE DRAMA, PLEASE…..


Semalam (tepatnya menjelang tengah malam), sebuah stasiun televisi swasta nasional dalam program beritanya melaporkan demonstrasi buruh di daerah Bogor, Jawa Barat yang terjadi siang harinya (27 Juni 2006). Kasusnya klise: pemilik modal tidak membayar gaji para buruh berbulan-bulan.

Laporannya juga klise: berisi berita dengan narasi dibacakan pihak stasiun televisi tentang pengusaha yang tidak membayar-bayar gaji para buruh (tanpa disertai pernyataan dari pihak pengusaha). Yang mengganggu dari berita tersebut adalah karena di bagian akhir, pihak stasiun memperlihatkan potongan wawancara seorang buruh perempuan yang sesenggukan (sampai kalimat yang diucapkannya tidak jelas) karena berhutang sampai satu juta rupiah ke beberapa warung demi menghidupi anak-anaknya. Durasi wawancara (eh…masih bisa dibilang wawancara nggak ya, kalau apa yang diucapkan narasumber sama sekali nggak jelas dari awal sampai akhir?) berisi tangisan ini bisa dibilang cukup panjang dibanding panjang segmen berita berisi demonstrasi buruh tersebut, yang hanya 2 sampai 3 menit-an.

Lazim, gaji tidak dibayar berbulan-bulan, buruh demonstrasi sampai menitikan air mata. Lazim, pemirsa terbawa emosi, karena kita berempati: Waduh, gimana kalau kita yang gajinya nggak dibayar berbulan-bulan? Terus? Kenapa harus ada tulisan ini di serampangan-bermedia? Mestinya, ka nisi blog ini adalah kritik terhadap praktek media?

Tulisan ini ada karena diantara kelaziman-kelaziman tadi, ada yang tidak lazim. Potongan wawancara buruh perempuan yang sesenggukan sampai kalimat yang diucapkannya tidak jelas, secara teknis bukanlah pesan yang efektif akan sampai ke pemirsa. Iya lah…, si buruh ngomong apa aja nggak kedengeran! Di luar masalah teknis penyampaian pesan, mengekspose adegan tangis-tangisan (kelihatannya) sudah jadi kegemaran stasiun-stasiun televisi di Indonesia. Maklum (menurut saya), kebanyakan orang Indonesia mudah tergugah dengan tangisan, merasa iba, tapi cepat lupa juga dengan kesusahan sesama.

Kemudah kasihanan (atau jangan-jangan, kita hanya menikmati tanpa rasa kasihan?) orang Indonesia akan tayangan yang berisi isak tangis ditanggapi cepat para “pengusaha” media. Bukan cuma dalam tayangan berita, tapi juga dalam berbagai tayangan hiburan, kita bisa melihat banjir air mata. Mudah-mudahan anda masih ingat salah satu program pencarian bakat, yang durasi peluk-pelukan & tangis-tangisan peserta yang tersingkirnya lebih panjang daripada durasi mereka menampilkan bakatnya di atas panggung. Belum lagi sinetron yang juga tak jauh dari kesusahan-kesusahan (walau akhirnya berakhir dengan kebahagiaan) yang juga penuh isak tangis. Intinya hanya satu: para “pedagang” media ingin isi medianya lebih “hidup”

Berita buruh yang demonstrasi sudah kabar biasa. Reality show dan sinetron dengan persaingannya yang luar biasa, membuat ide program atau ide cerita menjadi biasa-biasa saja. Maklum, para pekerja (yang katanya) kreatif sudah mulai kelelahan berlomba ide dengan pesaingnya. Jadi, demi “menghidupkan” program dicarilah scene-scene emosional yang salah satu bentuknya adalah tangisan.

Dramatisasi dalam informasi & hiburan di media massa adalah hal biasa (tapi tidak benar & tidak etis) yang terjadi dalam praktek media di berbagai negara. Misalnya, sebuah stasiun televisi di Las Vegas, KLAS, dalam liputannya tentang kasus penembakan di sebuah kasino (Baran, h. 480, 2004). Berita kasus kriminal yang berhasil terliput, ternyata “membosankan” dan dinilai butuh “sentuhan” agar terasa lebih hidup. Jadilah, manajemen media “menempel” suara-suara slot machine, perbincangan, dan juga tembakan di gambar hasil liputan para pekerja media yang sebelumnya dinilai membosankan. Hasilnya? Berita terasa lebih hidup.

Ujung-ujungnya, dari berbagai sentuhan dramatis di media massa adalah harapan meningkatkan jumlah audience yang nantinya akan meningkatkan juga perolehan iklan bagi media massanya. Masalahnya, jika terus-terusan disuguhi isak tangis, kapan kita mau mulai menjadi bangsa yang tabah? Hidup sudah berat, haruskah media massa mengeksploitasi kesusahan hidup demi kebahagiaan segelintir pemilik modal?

No comments: